Polda NTB Musnahkan Bahan Peledak Sisa Perang

Kapolda NTB Nana Sudjana (kiri) didampingi Kasatbrimob Polda NTB Taufiq Hidayat menunjukkan barang bukti bahan peledak jenis mortir dalam rangka pemusnahan di Mako Brimob Polda NTB, Kamis, 10 Oktober 2019. (Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Ledakan gudang bahan peledak di Mako Brimob Srondol Jawa Tengah 14 September lalu jadi pelajaran bagi Polda NTB. Bahan peledak yang disimpan punya sensitivitas tinggi. Sebanyak 64 jenis bahan peledak temuan untuk menghindari potensi ledakan.

Kapolda NTB Irjen Pol Nana Sudjana memimpin langsung pemusnahan tersebut di Mako Brimob Polda NTB di Ampenan, Mataram, Kamis, 10 Oktober 2019 pagi kemarin. sejumlah bahan peledak itu diletakkan di dalam bunker. Kemudian dimusnahkan dengan cara diledakkan.

“Standar operasional prosedur penyimpanan benda yang mudah meledak sangatlah penting dan harus benar-benar mendapat perhatian. Terlebih lagi Polda NTB belum mempunyai gudang khusus untuk menyimpan bahan peledak,” terangnya.

Pemusanahan atau disposal bahan peledak itu, sambung Nana, untuk mengurangi resiko ledakan. Barang bukti bahan peledak itu sudah kasusnya sudah memiliki kekuatan hukum

tetap. Temuan bahan peledak lainnya nantinya juga akan disiapkan tempat khusus.

“Saya perintahkan untuk dibuatkan bunker khusus sehingga penyimpanan tidak dilaksanakan dengan alat khusus lain di gudang,” tegas Kapolda.

Rincian barang bukti bahan peledak yang dimusnahkan antara lain, tiga buah mortir yang ditemukan Polres Sumbawa. Satu mortir lainnya ditemukan Polres Dompu beserta dua granat frag.

Sementara Polres Bima menemukan 21 buah granat ofensif dan satu bom ikan. Kemudian 2.000 detonator dan tiga bom ikan ditemukan Ditpolair Polda NTB.

Yang disita Polda NTB dan Polres Mataram diantaranya enam buah granat frag, satu granat rifel, 20 buan granat ofensif, dan empat mortir.

“Beberapa diantaranya ini ada yang sisa perang dunia. Sebagian besar ini masih aktif. Langkah pemusnahan ini sebagai antisipasi terhadap bahan peledak sisa peninggalan perang yang sangat berbahaya,” tandas Nana. (why)