Warga Bongkar Tenda Petugas di Hutan Pesugulan

Warga yang didominasi para ibu saat membongkar paksa tenda  pos penjaga kawasan hutan Pesugulan. (Suara NTB/ist_tngr)

Mataram (Suara NTB) – Konflik hutan lindung Pesugulan kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) dengan warga kembali memanas pascapenertiban. Situasi gaduh setelah warga memaksa masuk ke dalam kawasan PKTI Pesugulan, Desa Bebidas, Kecamatan Wanasaba, Lombok Timur Jumat, 4 Oktober dan berlanjut Sabtu, 5 Oktober 2019.

Informasi yang diperoleh Suara NTB, Jumat sekitar pukul 08.30 Wita, petugas sedang piket di kawasan hutan bekas perladangan liar warga itu. Mereka tiba-tiba dikejutkan dengan kedatangan massa sekitar  60 orang masuk ke dalam kawasan. Mereka didominasi kaum ibu dan sebagian anak-anak.

Kelompok masyarakat tersebut menerobos masuk kawasan hutan Pesugulan untuk mengambil barang dan sisa panen. Padahal kawasan itu sudah ditutup untuk masyarakat sejak penertiban beberapa waktu lalu.

Tim gabungan personel TNGR, polisi dan TNI berusaha melakukan pendekatan persuasif. Warga diberi kesempatan mengambil barang-barang dan sisa panen yang belum diambil.

Namun hingga siang  masyarakat masih bertahan menduduki kawasan. Bahkan semakin siang sekitar pukul 14.00 Wita, warga mulai bertindak mengarah ke anarkis. Warga membongkar paksa tenda yang dijadikan pos penjagaan oleh tim gabungan. Petugas tetap bertahan dan meminta warga meninggalkan kawasan dengan cara baik baik.

Baca juga:  Pembukaan Lahan Illegal Tahura Nuraksa Rugikan Negara Rp45 Miliar

‘’Namun tidak berhasil. Mereka menjawab dengan teriakan provokatif. Malah sebaliknya mereka meminta petugas keluar dari kawasan hutan Pesugulan karena menurut mereka kawasan itu adalah tanah adat,” demikian penjelasan Plt. Kepala Balai TNGR Ir. Ari Subiantoro, Minggu, 6 Oktober 2019.

TNGR kemudian berkoordinasi dengan Badan Kesbangpoldagri Lombok Timur, pihak Camat dengan mendatangi massa.  Namun  kelompok masyarakat tersebut tetap bertahan dan menginap di kawasan hutan Pesugulan.

Namun demikian, kelompok masyarakat tersebut juga kembali melanjutkan aksinya. Pukul 09.45 Wita kelompok ibu – ibu berjumlah sekitar 60 orang mulai berdatangan ke kawasan hutan Pesugulan dan bergabung bersama kelompok masyarakat yang telah bermalam sebelumnya.

Warga semakin anarkis. Merusak spanduk larangan masuk lokasi PKTI Hutan Pesugulan yang telah dipasang di pintu masuk. Mereka juga membongkar pondok dan tenda terpal yang ditempati petugas.

Baca juga:  Kawasan Geopark Rinjani dan Tambora Terbakar

Barang- barang bongkaran dimasukkan secara bergantian oleh ibu-ibu ke mobil TNGR dan berharap penjagaan dibubarkan. Aksi massa semakin tak terkendali, bahkan sempat memaksa akan menurunkan bendera merah putih, namun berhasil dicegah petugas.

Kelompok masyarakat itu akhirnya bersedia dialog ketika ditemui Kepala Seksi Pengelolaan Wilayah II,  Benediktus Rio Wibawanto. Kepada warga, disarankan agar masalah itu dikomunikasikan dengan baik tanpa aksi anarkis. Kedua, massa diberikan kesempatan menyampaikan keluhannya pada Senin, 7 Oktober 2019 di Kantor Bupati Lombok Timur.

Menurut Ari, hingga saat ini  kelompok masyarakat masih tetap bertahan di dalam kawasan hutan Pesugulan.

“Demikian juga petugas, tanpa lelah  mulai kembali membangun tenda darurat, memperbaiki jaringan listrik dan air, tetap melakukan penjagaan dan pengamanan kawasan hutan Pesugulan,” ujarnya. (ars)