Terdakwa Ikut Ambil Kredit Pakai Dalih Poktan di Kasus Korupsi Bank NTB Dompu

Jaksa penuntut umum menunjukkan bukti dokumen ke hadapan majelis hakim Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Mataram, Senin, 30 September 2019 dalam pemeriksaan saksi untuk terdakwa mantan Kepala KCPS Bank NTB Dompu, A Hafid.  (Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Terpidana korupsi kredit fiktif Kantor Cabang Pembantu Syariah (KCPS) Bank NTB Dompu, Muhamad Faisal bersaksi dalam sidang terdakwa A Hafid, Senin, 30 September 2019 kemarin. Faesal menjelaskan kongkalikongnya dengan mantan Kepala KCPS itu.

Saksi Faisal dihadirkan jaksa penuntut umum Muhamad Isa Ansyori dalam sidang yang dipimpin ketua majelis hakim Anak Agung Ngurah Rajendra. Faisal yang merupakan pecatan analis kredit itu membongkar modus korupsinya.

Faisal mengemukakan pengajuan kredit yang manipulatif sebanyak 20 nasabah. Beberapa diantaranya anggota keluarga dekat termasuk istri. Selain itu ada nama-nama fiktif. Dia juga mengungkap bahwa Hafid turut mendapat fasilitas kredit dengan mendompleng masuk anggota kelompok tani. “Terdakwa minta ikut masuk kelompok tani. Dapat Rp7,5 juta,” bebernya.

Baca juga:  Anggaran Sewa Rumdis Bupati-Wakil Bupati KLU Sesuai Permendagri

Kelompok tani di Manggelewa, Kabupaten Dompu itu beranggotakan 10 orang. Pengajuan kredit sebesar

Rp75 juta langsung disetujui Hafid berdasarkan analisis formalitas Faisal. Selain itu, Faisal juga mencatut nama orang lain demi mendapatkan perjanjian kredit jual beli. Tujuannya, kredit yang seharusnya untuk kebutuhan jual beli itu akan dipakai untuk menutupi pembayaran kredit pada pinjaman di bank lain.

Baca juga:  Polda NTB Klarifikasi Sekda KLU Soal Anggaran Sewa Rumdis Bupati

Faisal juga mengaku semua pengajuan kredit itu diketahui oleh Hafid. “Tidak ada yang tanda tangan ke terdakwa. Saya sendiri yang tanda tangan untuk dibawa ke pimpinan. Langsung disetujui karena dia yang minta,” ungkapnya.

Faisal sudah menjadi terpidana dengan hukuman penjara selama lima tahun, denda Rp50 juta subsider dua bulan, dan kewajiban membayar uang pengganti kerugian negara sebesar Rp1,54 miliar subsider dua tahun. Hafid membantu Faisal meloloskan pengajuan kredit 14 nasabah sepanjang rentang waktu tahun 2013-2015. Sebagai pimpinan, Hafid menyetujui pengusulan kredit yang dimanipulasi Faisal. (why)