Kasus BBGRM Bima 2014, Penyidik Kehilangan Jejak Rekanan

Syarif Hidayat (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Dua rekanan proyek pengadaan baju Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) Kabupaten Bima diusut lagi. Saksi Yasin sudah diperiksa sampai dua kali. Namun, berbeda dengan Muhammad Jaelani yang belum ada kabar sampai kini.

Kasubdit III Tipikor Ditreskrimsus Polda NTB AKBP Syarif Hidayat menyatakan bahwa dua rekanan itu terlibat korupsi merujuk berkas terpidana H Rusydi. Dalam persidangan pun sudah terbukti.

“Itu kan ada empat tersangkanya. Satu itu yang sudah meninggal. Satu yang sudah divonis. Sisanya yang dua ini,” ujarnya dikonfirmasi kemarin.

Baca juga:  Dugaan Korupsi Dana Insentif Marbot, Mantan Camat Praya Barat Daya Dituntut 1,5 Tahun

Penyidik, imbuh dia, sudah mulai memanggil lagi dua saksi tersebut. Namun, hanya Yasin yang bersedia memenuhi panggilan.

“Yang Jaelani ini yang tidak tahu dia ke mana. Kita coba layangkan panggilan lagi,” ungkapnya.

Putusan banding Pengadilan Tinggi NTB menguatkan putusan Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Mataram atas terdakwa H Rusydi. Mantan Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa (BPMDes) Kabupaten Bima ini dihukum penjara selama satu tahun dengan denda sebesar Rp50 juta subsider.

Vonis itu juga memutuskan penggantian kerugian negara sebesar 166 juta dibebankan kepada rekanan, Yasin dan M Jaelani. Hakim menyebutkan dua orang tersebut yang mendapat keuntungan dari proyek pengadaan baju.

Baca juga:  Kejagung Usut Dugaan Pengadaan Bibit Jagung 2017

Uang sejumlah Rp120 juta yang pernah dititipkan Rusydi diperintahkan untuk dikembalikan lagi. Hakim banding beralasan terdakwa tidak patut dibebani uang pengganti. Rusydi terbukti tidak ikut menikmati uang hasil korupsi.

Hakim memutus rekanan membayarkan uang pengganti kerugian negara. Yakni yakni Yasin dan Muhammad Jaelani. Uang proyek senilai Rp 692 juta masuk ke rekening dua rekanan petinggi PT Jaya Priangan tersebut. (why)