TP4D Tegur Kontraktor Proyek Dermaga Gili Trawangan

Kondisi dermaga Gili Air  yang hancur akibat gempa. Dermaga utama ini sedang dalam proses pengerjaan dan pengawasan TP4D. (Suara NTB/ars)

Mataram (Suara NTB) – Tim Pengawal dan Pengaman Pemerintah dan Pembangunan Daerah (TP4D)  NTB memberi peringatan kepada pelaksana proyek Dermaga Gili Trawangan. Teguran itu lantaran proyek di Gili Trawangan Desa Gili Indah Kecamatan Pemenang KLU itu hingga kini belum menunjukkan kemajuan.

Temuan itu setelah TP4D turun melakukan cek fisik, Rabu, 11 September 2019 kemarin. Mereka memberikan catatan dalam pengerjaan proyek  rehabilitasi Dermaga Gili Trawangan yang hancur akibat gempa tahun lalu itu.

Proyek diketahui dikerjakan PT. Hari Jadi Sukses, dengan nilai kontrak Rp 16,836 miliar, sesuai ketentuan dimulai sejak 15 Juli 2019 dengan masa tenggat 170 hari.

Baca juga:  Semen Langka, Proyek Pemerintah Terancam Macet

Juru bicara Kejati NTB, Dedi Irawan, SH.,MH yang terlibat dalam tim menyebut,  progres pekerjaan lamban dan terdapat deviasi 0,18 persen. Pantauan lapangan oleh tim, secara fisik baru berupa pembetonan bagian pinggir dermaga. Sementara bantalan di atas laut belum disentuh. Masih berupa tiang pancang sisa kerusakan akibat gempa sebelumnya.

 ‘’Ini menjadi atensi TP4D, karena banyak temuan. Jika menurut  perencanaan, progres seharusnya sudah mencapai 19 persen sejak tanggal 15 Juli 2019,’’ kata Dedi Irawan.

Dari keterangan diperoleh tim saat cek fisik, kendala yang dihadapi rekanan terkait keterlambatan pengiriman material.

‘’Sebab materialnya didatangkan  dari Surabaya,’’ ujarnya. Alasannya karena kebutuhan material tidak terpenuhi dari NTB sehingga didatangkan dari Surabaya. Itu pun, katanya, memerlukan waktu beberapa hari sampai  di Gili Trawangan.

Baca juga:  ‘’Groundbreaking’’ Dam Meninting Tandai Setahun Kepemimpinan Zul-Rohmi

Atas  temuan temuan itu,  TP4D mengeluarkan rekomendasi. Diantaranya, penyedia segera mengejar deviasi minus dan kelengkapan peralatan termasuk kebutuhan material.

Mengingat lokasi itu adalah tempat wisata padat wisatawan asing, pelaksana juga diminta mengutamakan keamanan. ‘’Baik itu safety untuk wisatawan maupun pekerjanya,’’ ujar Dedi.

Agar tidak terjadi penyimpangan, pihaknya mengingatkan dalam mengejar deviasi tidak mengabaikan mutu dan kualitas pekerjaan. Sebab itu akan jadi temuan berikutnya. ‘’Catatannya adalah tertib administrasi. Jangan sampai terjadi penyimpangan,’’ tegasnya. (ars)