Indikasi Mafia di PETI

Nana Sudjana (Suara NTB/dok)

POLDA NTB memastikan akan tetap serius  menutup aktivitas tambang liar di NTB. Pihak yang dianggap menghambat akan ditindak tegas. Termasuk kemungkinan mengusut indikasi keterlibatan mafia tambang.

Kapolda NTB Irjen Pol. Drs. Nana Sudjana AS,MM menegaskan, semua titik lokasi Pertambangan Emas Tanpa Izin  (PETI) akan ditutup total dengan proses yang bertahap.

‘’Ini semua akan kita tutup. Saya tidak menyampaikan target, tapi kita maksimalkan. Lebih cepat lebih baik,’’ tegas Kapolda ditemui usai press release pengungkapan kasus oleh jajaran Polda NTB, Senin, 9 September 2019.

Kapolda tidak memungkiri, ada pihak pihak yang diduga bermain di balik aktivitas tambang liar di beberapa titik Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Mereka mengambil keuntungan pribadi dengan menjadi backing lubang tambang di beberapa titik, termasuk  suplai bahan bakar dan bahan kimia pemurnian emas.

‘’Makanya ada beberapa orang sudah ditetapkan sebagai tersangka. Memang ada pengepul, ada yang membiayai. Ini kita tindak tegas kalau menghalang-halangi,’’ tegasnya.

Komitmen dalam penindakan PETI sudah ditunjukkan dengan pengungkapan sejumlah kasus distribusi merkuri dan sianida, di sisi lain menutup lubang tambang di Gunung Prabu, Lombok Tengah.

‘’Jelas komitmen kita dari Polri, TNI, Pemda, tokoh masyarakat, bahwa Peti ini banyak merusak lingkungan dan merugikan kesehatan,’’ jelasnya.

Cara lain menutup tambang ilegal

dengan memutus mata rantai peredaran Bahan Bakar Minyak (BBM) ke lokasi tambang, membongkar jaringan pengiriman  merkuri ke toko-toko emas. Tantangan yang dirasakan, bahan kimia itu pada dasarnya boleh dipakai, namun untuk kegiatan yang berizin.

Secara khusus yang diintai adalah penggunaan bahan kimia untuk Peti karena tergolong tindakan pidana.

‘’Soal siapa yang backing, itu secara hukum jelas pidana. Kita akan proses jika akhirnya  ditemukan,’’ tegasnya.

Pada kesempatan press release itu, Kapolda yang didampingi jajaran mengungkap sejumlah kasus terkait tambang liar berhasil ditangani. Lima kasus Peti dengan enam  tersangka. Polres Mataram, Polres Loteng, Polres Dompu masing-masing menangani satu kasus dan menahan satu orang tersangka.

Barang bukti yang diamankan berupa empat unit exavator, dua roda enam, 17 ton batu gelana, 4.200 liter BBM, dokumen jual beli hasil tambang liar. Polda NTB juga mengungkap kasus jual beli bahan kimia berupa air raksa, sianida.

Barang bukti yang disita tiga botol merkuri seberat 3 Kg, 73 drum sianida. Sedangkan Polres Sumbawa Barat mengamankan satu orang tersangka, dengan barang bukti delapan botol merkuri, uang Rp1 juta. Polres Sumbawa menangani satu kasus dengan satu tersangka, barang bukti 13 botol air raksa dan 84 biji emas mentah.  (ars)