Berkas Kasus Marching Band Balik ke Penyidik Lagi

Dedi Irawan (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Penyidikan dugaan korupsi pengadaan alat kesenian marching band pada Dinas Dikbud Provinsi NTB tahun 2017 bakal molor lagi. Sebabnya, berkas dua tersangka belum juga lengkap. Lagi-lagi soal petunjuk harga pembanding yang belum memenuhi petunjuk jaksa.

Juru Bicara Kejati NTB Dedi Irawan menerangkan berkas dua tersangka kasus tersebut dikembalikan lagi ke penyidik pada 21 Agustus lalu. “Petunjuk yang sama, soal harga pembanding itu yang belum dilengkapi,” ujarnya, Selasa, 27 Agustus 2019.

Dia menegaskan penyidik memiliki tambahan waktu 14 hari untuk melengkapi petunjuk jaksa itu. Terpenuhinya petunjuk itu untuk keperluan penuntutan di pengadilan. “Kebutuhan formil dan materiil,” kata Dedi.

Terpisah, Direktur Reskrimsus Polda NTB Kombes Pol Syamsuddin Baharudin menyatakan akan memenuhi petunjuk jaksa tersebut. “Akan kita penuhi lagi sampai berkasnya lengkap,” ucapnya singkat. Berkas kasus itu antara lain untuk dua tersangka. yakni mantan Kasi Kelembagaan dan

Sarpras Bidang Pembinaan SMA Dinas Dikbud Provinsi NTB Muhammad Irwin selaku PPK proyek. Selanjutnya, tersangka Lalu Buntaran, Direktur CV Embun Emas, rekanan pemenang tender.

Tersangka Irwin membagi dua paket pengadaan alat kesenian marching band. Paket pertama dibuat sebagai belanja modal dengan nilai HPS Rp1,68 miliar dari pagu anggaran Rp1,70 miliar. CV Embun Emas milik tersangka Buntaran memenangi tender dengan penawaran Rp1,57 miliar. Alat kesenian marching band pada paket pertama ini dibagi ke lima SMA/SMK negeri.

Paket kedua disusun sebagai belanja hibah untuk pengadaan bagi empat sekolah swasta. HPS-nya senilai Rp1,062 miliar. CV Embun Emas kembali menjadi pemenang tendernya dengan harga penawaran Rp982,43 juta. PPK dan rekanan diduga bersekongkol sejak dalam tahap perencanaan. Rekanan yang memberikan katalog spesifikasi barang. HPS pun diduga disusun bersama-sama. Dalam kasus itu kerugian negara berdasarkan hasil hitungan BPKP Perwakilan NTB yakni sebesar Rp702 juta. (why)