Kasus Masjid Terapung Kota Bima Belum Bisa Naik Penyidikan

Dedi Irawan (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Sejumlah kasus dugaan korupsi yang ditangani Kejati NTB belum berprogres. Salah satunya, dugaan penyimpangan proyek masjid terapung Amahami Kota Bima tahun 2018. Kasus tersebut masih bertahan di tahap penyelidikan berdasarkan ekspose penyidik.

“Belum bisa ditingkatkan ke tahap penyidikan,” ungkap Juru Bicara Kejati NTB Dedi Irawan dikonfirmasi pekan lalu.

Dia mengatakan, kasus tersebut sudah diekspose penyidik pekan lalu. Bersama sejumlah kasus lainnya baik yang masih penanganan bidang intelijen ataupun yang sudah dalam penanganan bidang pidana khusus.

Baca juga:  Investigasi Balai Sertifikasi Benih, 198 Ton Bibit Jagung Diduga Palsu

“Itu hasil ekspose, kasusnya masih di tahap penyelidikan,” sebutnya. Ekspose dilaksanakan di ruang rapat Kejati NTB dengan dihadiri oleh Kajati NTB, Wakajati NTB, para asisten, koordinator dan kasi, serta tim penyelidik dari bidang intelijen dan pidsus.

Penanganan kasus itu sebelumnya ditingkatkan statusnya dari penyelidikan intelijen menjadi penyelidikan pidana khusus pada Mei lalu. Untuk mendalami lagi kasus tersebut, jaksa penyidik Pidsus akan mengklarifikasi kembali saksi-saksi.

Baca juga:  Tersangka Dugaan Korupsi Kredit Modal Kerja Perumahan Dompu Mangkir

Masjid terapung Amahami Kota Bima dibangun pada tahun 2018 lalu dengan anggaran Rp12,4 miliar. Lokasinya berdekatan dengan proyek penataan taman Amahahami yang sebelumnya juga masuk penyelidikan jaksa.

Masjid tersebut dibangun dengan dana APBD Kota Bima tahun 2018. Proyek ditender dengan harga perkiraan sendiri dari Dinas PUPR Kota Bima sebesar Rp12,39 miliar. Selanjutnya, tender proyek dimenangi PT Mayalia yang menawar dengan harga Rp12,38 miliar. (why)