Jaksa Anggap Vonis Penjara 19 Tahun Dorfin Sudah Adil

Hr Batubara (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Vonis terhadap banding WNA Perancis Dorfin Felix turun menjadi 19 tahun dari semula hukuman mati. Kejati NTB memberi sinyal tidak akan memperpanjang upaya hukum terhadap pengimpor narkoba 2,98 kg ini. Sebab, tuntutan jaksa sebelumnya 20 tahun penjara.

Asisten Tindak Pidana Umum Kejati NTB Hr Batubara menyatakan, akan mempelajari dulu vonis banding Pengadilan Tinggi NTB. Tetapi pada prinsipnya bagi jaksa vonis itu sudah cukup. “Sudah memenuhi rasa keadilan menurut kita. Karena tuntutannya kan sebelumnya 20 tahun,” ucapnya dikonfirmasi Jumat, 2 Agustus 2019.

Dia menyebutkan, hukuman itu bisa berubah manakala terdakwa mengajukan kasasi ke mahkamah agung. Tetapi tidak untuk jaksa penuntut umum. “Kalau kita sudah sesuai SOP,” sebutnya.

Menurut Batubara, upaya jaksa yang tidak ngotot mempertahankan putusan pengadilan tingkat pertama karena langkah penuntutan sesuai dengan standar prosedur operasional.

Prosedur standar itu, kata dia, mencakup tuntutan pidana badan maksimal 20 tahun untuk kasus dengan barang bukti narkoba 3 kg. “Kecuali sudah ekstraordinari di atas 5 kg itu hukuman mati,” paparnya.

Baca juga:  NTB di Ambang Darurat Narkoba

Dalam pasal 113 UU RI No 35/2009 tentang narkotika, mengatur hukuman pidana badan paling lama 20 tahun, atau pidana mati untuk barang bukti di atas lima gram.

Begitupun juga dengan unsur identitas pelaku mengimpor narkoba masuk ke wilayah Indonesia. Menurutnya pasal dalam UU narkotika tidak memandang siapapun. Termasuk memberi tuntutan lebih berat

untuk pelaku warga negara asing.

Pengimpor narkoba 2,98 kg asal Perancis Dorfin Felix mendapat hukuman lebih ringan. Hal itu setelah hakim banding Pengadilan Tinggi NTB memvonisnya lebih rendah dari Pengadilan Negeri Mataram. Dari semula hukuman mati menjadi pidana penjara 19 tahun.

Putusan banding tersebut ditetapkan majelis hakim dengan ketua DR Zainuddin beserta hakim anggota Gusti Lanang Dauh dan Miniardi. Tertuang dalam amar yang diputuskan Senin (29/7) lalu dengan nomor 38/PID.SUS/2019/PT MTR.

Hakim banding menyatakan menerima banding jaksa penuntut umum dan terdakwa. Amar putusannya mengubah putusan Pengadilan Negeri Mataram. Isinya, menyatakan Dorfin terbukti bersalah mengimpor narkotika bukan tanaman melebihi lima gram.

Baca juga:  Bandar Tramadol Ditangkap

Dorfin terbukti bersalah secara sah dan meyakinkan mengimpor sabu, amphetamine, ketamine, dan metilendioksimetamfetamina atau ekstasif dengan total beratnya 2,989 gram atau setara 2,98 kg. Untuk menyelundupkan barang haram itu, Dorfin menerima upah 5.000 euro atau setara Rp87 juta.

Dorfin membawa dua koper dari Lyon, Perancis menuju Jakarta, Indonesia. Pesawat Lufthansa yang ditumpanginya lebih dulu transit di Frankfurt, Jerman dan Singapura dalam penerbangan Kamis 20 September 2018. Dorfin tiba di Lombok sehari kemudian. Narkoba di dalam kopernya akhirnya terdeteksi mesin x-ray Lombok International Airport meskipun sudah lolos di dua bandara sebelumnya.

Hakim menjatuhkan pidana penjara kepada Dorfin selama 19 tahun dan pidana denda Rp10 miliar. Apabila denda tidak dibayar dalam jangka waktu satu bulan maka Dorfin wajib menggantinya dengan penjara selama satu tahun. (why)