Kekerasan Seksual Oknum Guru Bimbel, Sakti Peksos NTB Dampingi Trauma Korban

Tersangka kekerasan seksual terhadap anak, EC (kedua kanan) ditangkap Polda NTB. Guru bimbel ini diduga melakukan keekersan seksual terhadap tujuh anak di bawah umur. (Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Memulihkan trauma korban adalah hal utama memotong mata rantai kekerasan seksual terhadap anak. Pemulihan membutuhkan waktu yang panjang dan penanganannya kompleks melibatkan banyak pihak. Satu kuncinya adalah membuat anak untuk mendapatkan akses pendidikan.

Satuan Bakti Pekerja Sosial Kemensos Disos Provinsi NTB Arief Budi Saputra mengatakan tahapan yang diambil saat ini yakni pengecekan kondisi psikologis. Seperti yang sedang dilakukan terhadap para korban kekerasan seksual anak dari tersangka EC yang sudah ditangkap Polda NTB pekan lalu. “Hari ini (kemarin) kami memeriksa psikologis lanjutan untuk dua anak. Jumlah anak korban saat ini berkembang menjadi sembilan anak,” ujar Arif dikonfirmasi Rabu, 31 Juli 2019.

Dia menjelaskan tahapan selanjutnya dengan menaksir tingkat trauma korban sebagai bekal pemulihan. Fokusnya dengan penguatan lewat kegiatan temu anak dan keluarga. “Untuk anak korban yang putus sekolah, akan diupayakan agar bisa kembali melanjutkan pendidikan,” terangnya.

Pendidikan menurutnya menjadi benteng anak korban di kemudian hari. Penanganan trauma korban, kata Arief, sangat penting untuk mencegah agar korban tidak menjadi pelaku di kemudian hari. Trauma korban dapat membuatnya mengulangi perbuatan yang diterima sebelumnya dengan mencari orang lain. “Ini kita cegah agara jangan sampai ketika merka dewasa nanti malah menjadi pelaku. Pemulihannya tidak bisa sebentar,” jelasnya.

Cara awal yang bisa dilakukan, sambung dia, dengan pendekatan emosional, mengajarkan anak dengan kegiatan bermanfaat dengan pendekatan bermain, menggambar, dan bercerita. Terpisah, Kasubdit IV Remaja Anak Wanita Ditreskrimum Polda NTB AKBP Ni Made Pujawati menjelaskan penyidikan terhadap tersangka EC (30) masih berjalan. Termasuk mengembangkan hasil penyidikan sementara terkait bertambahnya jumlah korban.

“Masih didalami apakah ada korban lain. Nanti akan terungkap setelah pemeriksaan saksi-saksi,” paparnya. Seorang guru bimbel di Mataram asal Cianjur Jawa Barat, EC diduga melakukan kekerasan seksual kepada tujuh anak yang berumur antara 11 sampai 14 tahun. Masing-masing korban mendapat perlakuan antara tujuh sampai delapan kali sejak dua bulan belakangan ini.

Tersangka yang terindikasi homoseksual ini mengimingi para korbannya dengan imbalan uang tunai. Mulai dari Rp10 ribu sampai Rp100 ribu. Para korban dicekoki lebih dulu dengan tontonan video porno. (why)