Kades Lingsar Tersangka Korupsi Dana CSR

Ketut Sumedana (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Proses penyidikan korupsi dana CSR PDAM Giri Menang bergerak maju. Kepala Desa Lingsar, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat SY ditetapkan sebagai tersangka. SY diduga menggunakan dana CSR yang menjadi hak Desa Lingsar untuk keperluan pribadi. Dana CSR tersebut sebesar Rp165 juta.

Kepala Kejari Mataram Dr Ketut Sumedana menyebutkan, jaksa penyidik sudah menemukan minimal dua alat bukti yang cukup untuk menjerat SY. Penetapan tersangka setelah jaksa yakin dengan perbuatan pidana yang dibahas dalam ekspose. “Kades Lingsar sudah kita tetapkan sebagai tersangka kemarin (Kamis). Alat bukti dan saksi sudah kuat,” ujarnya dikonfirmasi Jumat, 19 Juli 2019.

Baca juga:  Terdakwa Ikut Ambil Kredit Pakai Dalih Poktan di Kasus Korupsi Bank NTB Dompu

Setelah penetapan tersangka, sambung mantan jaksa KPK ini, Kades Lingsar kemudian akan dipanggil untuk diperiksa. Penyidik sudah menyelesaikan pemeriksaan saksi-saksi. “Nanti (tersangka) akan dipanggil untuk diperiksa,” tegas Sumedana.

Tersangka SY dijerat dengan pasal 2 dan atau pasal 3 UU RI No 20/2001 tentang perubahan atas UU RI No 31/1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi. Jaksa penyidik Pidsus menghitung kerugian negara dalam kasus itu sebagai kerugian total. Dana sebesar Rp165 juta dianggap sebagai kerugian negara.

Baca juga:  Dugaan Korupsi Dana Insentif Marbot, Mantan Camat Praya Barat Daya Dituntut 1,5 Tahun

Dana yang masuk dari PDAM Giri Menang tidak pernah melalui pembahasan di tingkat BPD. Apalagi persetujuan penggunaannya. “Dana CSR yang seharusnya untuk desa dikirimkan melalui rekening pribadi. Semuanya yang Rp165 juta itu. Uang sudah habis dipakai. Dana CSR untuk desa masuk dalam keuangan negara,” jelasnya.

Dana CSR tersebut diduga dipakai untuk keperluan pribadi. Salah satunya dibagikan sebagai uang tunjangan hari raya (THR) saat Idul Fitri 1440 H 2019 lalu. Berdasarkan tujuan pemberiannya, dana CSR itu hendak dipakai untuk kegiatan reboisasi, kegiatan sosial, serta stimulus modal usaha. (why)