Kasus BOS SMAN 1 Monta, Terdakwa Titip Pengembalian Kerugian Negara

Terdakwa Nurul Mubin (kedua kanan) dan penasihat hukumnya, Suhartono (ketiga kanan) menyerahkan uang tunai Rp70 juta ke pada jaksa penuntut umum untuk dititipkan, Senin, 15 Juli 2019 di hadapan majelis hakim Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Mataram. (Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Terdakwa mantan Kepala SMAN 1 Monta, Nurul Mubin menitipkan uang Rp70 juta dalam persidangan, Senin, 15 Juli 2019 kemarin. Terdakwa korupsi dana BOS SMAN 1 Monta ini meniatkannya sebagai pengganti kerugian negara. Atas penitipan itu, pemulihan kerugian negara dalam kasus tersebut sudah maksimal.

Terdakwa Mubin didampingi penasihat hukumnya, Suhartono menyerahkan uang tunai Rp70 juta itu untuk dititipkan. Titipan uang pengganti kerugian negara itu diserahkan kepada jaksa penuntut umum di hadapan majelis hakim yang diketuai Anak Agung Ngurah Rajendra.

“Uang tersebut dititipkan ke jaksa di hadapan majelis. Ini masih uang yang dititipkan,” ujar Juru Bicara Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Mataram, Fathurrauzi. Sebab, Mubin sebelumnya juga sudah menitipkan uang sebesar Rp80 juta. Selain itu, mantan terdakwa Wahidin menitipkan sejumlah Rp70 juta.

Baca juga:  Mantan Kabid PAUDNI KSB Dituntut Penjara 7,5 Tahun

Mubin didakwa korupsi pengelolaan dana BOS tahun 2016. Mubin dibantu dua bawahannya bergantian, mantan Bendahara SMAN 1 Monta Umar Zakaria dan Wahidin. Perbuatan mereka membuat negara rugi Rp339,3 juta, sesuai hasil perhitungan BPKP.

Wahidin meninggal dunia di Lapas Mataram, semasa sidang masih berjalan. Jaksa sudah menghentikan penuntutan atas terdakwa Wahidin. Dana BOS SMAN 1 Monta pada tahun 2016 yang dicairkan per triwulan. Total dana yang diterima sejumlah Rp706,6 juta. Mubin memakai dana BOS tersebut tanpa melibatkan tim manajemen BOS pada setiap kegiatan.

Baca juga:  Kejati NTB Usut Delapan Kasus Korupsi

Mubin sebagai pengelola dana tidak membuat laporan pertanggungjawaban. Sementara Umar membantu membuat laporan pertanggungjawaban dana triwulan I yang sudah dimanipulasi. Sementara Wahidin melakukan hal yang sama seperti Umar pada LPH triwulan ke-II sampai ke-IV.

Nota dan kwitansi dibuat sendiri. Caranya dengan membuat duplikat stempel atau cap toko untuk menutupi nilai uang yang telah dipakai tidak sesuai Juknis. Dalam pencairan dana BOS Triwulan IV yang totalnya sebesar Rp237,6 juta sebagian diantaranya dimasukkan dalam kantong terdakwa sendiri. Dalam lima kali penarikan, Mubin mengantongi antara Rp9 juta sampai Rp35 juta. (why)