Kejati NTB Eksekusi Paksa Buronan Terpidana Pemalsu Bilyet Giro

Terpidana pemalsuan bilyet giro Rp400 juta, Nanang Fauzi (depan kanan) mendapat pengawalan jaksa Kejati NTB, Kamis, 11 Juli 2019 usai ditangkap. Nanang menjadi buronan sejak tahun 2017. (Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Terpidana pemalsu surat bilyet giro, Nanang Fauzi akhirnya mulai merasakan sel Lapas Mataram. Pemilik apotek ini kabur sejak awal 2017 lalu. Sampai tingkat kasasi, Nanang tetap dihukum bersalah dan divonis satu tahun penjara.

Nanang sedang mengawasi tukang di rumahnya yang sekomplek dengan salah satu apotek di Jalan Catur Warga, Mataram, Kamis, 11 Juli 2019 pagi. Sekitar pukul 09.00 Wita, dia sudah berada di Kantor Kejati NTB.

Rupanya, tiga orang yang memboyongnya pagi itu adalah Tim Tabur Kejati NTB. Nanang sudah masuk radar sejak tiga hari belakangan ini.
“Nanang ini adalah terpidana yang putusan pidana perkaranya sudah inkrah,” ungkap Kepala Kejati NTB Arif dikonfirmasi usai penangkapan.

Baca juga:  Penyidikan Kasus Dana CSR PDAM Tuntas

Dia menjelaskan bahwa Nanang merupakan buronan yang kabur ketika hendak dieksekusi penahanannya. “Sebelumnya di tahanan kota. Sudah tiga kali dipanggil tidak pernah hadir,” terang Arif.

Terpidana Nanang selanjutnya digelandang ke Lapas Mataram. Dia bakal menjalani masa pidana penjara selama satu tahun. Sesuai putusan kasasi

Mahkamah Agung RI Nomor 147K/PID/2017.

Putusan itu menguatkan putusan banding Pengadilan Tinggi NTB Nomor 95/PID/2016 yang menguatkan putusan Pengadilan Negeri Mataram Nomor 231/PID.B/2016/PN.Mtr, yang isinya menghukum Nanang dengan pidana penjara selama satu tahun.

Nanang merupakan terpidana kasus pemalsuan bilyet giro BNI Syariah senilai Rp400 juta pada tahun 2012. Bilyet giro yang masing-masing senilai Rp200 juta diajukan dalam perkara perdata wanprestasi.

Baca juga:  Distanbun Akui Bibit Rusak 190 Ton

“Bilyet itu diajukan untuk bukti persidangan. Bilyet itu dibuat sendiri. Nilainya Rp400 juta. Padahal di rekeningnya hanya ada uang Rp816,83 juta,” papar Arif.

Nanang bersengketa dengan Hugeng Angkosodjojo. Hugeng menggugat wanprestasi Nanang karena gagal bayar jual beli delapan bidang tanah di Seteluk, Batulayar, Lombok Barat. Dalam perjanjiannya pada tahun 2011, mereka sepakat di depan notaris dengan jual beli senilai Rp7,07 miliar yang dicicil 17 kali.

Namun sampai September 2014 sesuai waktu jatuh tempo, Nanang belum juga melunasinya. Hugeng pun merugi Rp3,8 miliar dari sisa utang yang belum dibayar Nanang. (why)