Polda NTB Usut Proyek Dermaga Waduruka Rp4,52 Miliar

PPK proyek Dermaga Waduruka, Mustakim menaiki tangga Gedung Ditreskrimsus Polda NTB, Selasa, 2 Juli 2019 menuju ruang Subdit III Tipikor untuk memenuhi panggilan penyidik Subdit III Tipikor. (Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Polda NTB membidik proyek rehabilitasi Dermaga Waduruka, Langgudu, Kabupaten Bima tahun 2018 yang diduga ditinggal kontraktor. Proyek ini dikerjakan dengan pagu anggaran senilai Rp4,52 miliar.

Pejabat BPBD Provinsi NTB telah dimintai keterangan terkait proyek ini. Pejabat pembuat komitmen proyek tersebut, Mustakim mendatangi Gedung Ditreskrimsus Polda NTB Selasa, 2 Juli 2019 kemarin. Dia mengakui bahwa diminta datang oleh penyidik Subdit III Tipikor. Sekitar pukul 13.30 Wita, Mustakim menuju ruang pemeriksaan.

‘’Iya ini cuma klarifikasi. Biasa namanya juga laporan masyarakat,’’ ujarnya. Menurutnya, proyek tersebut dikerjakan menggunakan sistem tender. Namun, dia enggan memberikan keterangan lengkap mengenai mandeknya pengerjaan proyek yang dikerjakan tahun 2018 itu. “Kalau itu pekerjaan rehabilitasi,” ucap Mustakim singkat.

Ditemui terpisah, Direktur Reskrimsus Polda NTB Kombes. Pol. Syamsuddin Baharuddin enggan memberikan penjelasan rinci mengenai pengusutan proyek tersebut. ‘’Ini masih verifikasi,’’ katanya.

Seperti diberitakan, proyek rehablitasi pembangunan dermaga milik Pemprov NTB melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTB, yang berada di Desa Waduruka Kecamatan Langgudu Kabupaten Bima diduga macet. Pasalnya, pengerjaan proyek diduga ditelantarkan begitu saja oleh kontraktor dan sampai saat ini tidak ada kejelasan kelanjutannya.

Baca juga:  Dugaan Korupsi Dana Insentif Marbot, Mantan Camat Praya Barat Daya Dituntut 1,5 Tahun

Proyek yang dikerjakan oleh PT. AJA dengan pagu anggaran sekitar Rp4 miliar lebih tersebut, tidak selesai dikerjakan hingga akhir 2018.

Kepala Desa Waduruka Kecamatan Langgudu, Ramlin, S.Pd, mengaku kecewa dengan pengerjaan proyek dermaga itu. Selain tidak  berfungsi, banyak menyisakan masalah karena diduga dikerjakan terkesan asal-asalan.

‘’Kami sangat menyayangkan, pengerjaan fisik dermaga belum selesai dikerjakan,’’ katanya kepada Suara NTB, akhir pekan kemarin.

Selain itu, masyarakat yang memiliki kerikil dan pasir yang menjadi bahan material dermaga juga mengeluh ke kepada desa. Pasalnya, material bangunan ternyata belum dibayar oleh pelaksana proyek hingga saat ini.

‘’Totalnya ada sekitar Rp60 juta uang untuk pembayaran pasir dan kerikil milik warga yang belum dibayarkan,’’ ujarnya.

Ramlin mengaku, Pemerintah Desa sudah mencoba membuka komunikasi dengan pihak pelaksana proyek, namun tidak ada respons. Tujuannya, untuk memastikan kembali proyek itu bisa dilanjutkan karena akan dimanfaatkan masyarakat setempat.

‘’Keluhan- keluhan warga telah kami upayakan untuk dikomunikasikan. Tapi tak ada respons sampai sekarang,’’ ujarnya.

Baca juga:  Somasi Soroti Rencana Pembangunan Graha DPRD Mataram

Sekretaris Desa Waduruka, Ayub S.Pd menambahkan proyek tersebut mulai dikerjakan sekitar akhir tahun 2018 lalu, namun sejak empat bulan terakhir ini dibiarkan begitu saja. ‘’Kondisinya dibiarkan begitu saja. Tidak ada aktivitas selama empat bulan. Para pekerja juga semua sudah pulang,’’ katanya.

Meski kondisi tidak sesuai harapan dan dibiarkan begitu saja. Tapi ia berharap pengerjaannya diselesaikan sesuai dengan perencanaan awal. Sehingga bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. ‘’Harapan kita bisa dikerjakan sesuai perencanaan awal. Tidak dibiarkan begitu saja,’’ harapnya.

Terpisah, Kepala Pelaksana BPBD NTB, H. Ahsanul Khalik, S.Sos.MH yang dikonfirmasi Suara NTB, enggan menanggapi keberadaan dan kelanjutan pengerjaan proyek milik Pemprov NTB yang dikerjakan melalui BPBD Provinsi NTB tersebut.

Dikutip dari laman e-proc Layanan Pengadaan Secara Elekronik (LPSE) Provinsi NTB, proyek rehabilitasi Dermaga Waduruka dianggarkan melalui APBD Provinsi NTB tahun 2018 dengan pagu sebesar Rp4,8 miliar.

Proyek yang dilelang melalui BPBD Provinsi NTB pada bulan Juni 2018 ini diikuti 18 peserta tender. PT AJA memenangi tender dengan harga penawaran Rp4,52 miliar. (why)