Kejaksaan Bidik Proyek Jalan Pemenang-Sembalun Rp224,8 Miliar

Perwakilan PT Hutomo Mandala Perkasa menaikkan bundel berkas ke dalam mobil usai memberi keterangan di Kantor Kejati NTB, Senin, 1 Juli 2019 terkait proyek preservasi dan pelebaran jalan Pemenang-Bayan-Sembalun. (Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Proyek preservasi dan pelebaran jalan Pemenang-Bayan, Lombok Utara sampai Sembalun, Lombok Timur dibidik Kejaksaan Tinggi (Kejati) NTB. Sejumlah pihak mulai diklarifikasi. Diantaranya, peserta tender proyek Kementerian PUPR RI senilai Rp224,8 miliar ini.

Diantara pihak yang diklarifikasi adalah tiga orang perwakilan PT. Hutomo Mandala Perkasa yang mendatangi Kejati NTB, Senin, 1 Juli 2019 kemarin. Pihak yang diklarifikasi juga membawa satu koper berkas dan dibawa ke ruangan Pidsus.

“Terkait itu kami diklarifikasi,” kata seorang perwakilan PT.Hutomo Mandala Perkasa, Hartono. Ia menjelaskan perihal kedatangannya terkait proyek jalan sepanjang 136,08 Km itu. Selain itu, dia mengaku menyerahkan bukti dokumen kepada jaksa penyidik.

Baca juga:  Korupsi Sampan Fiberglass Bima 2012, Polda NTB Bakal Gelar Perkara Usut Hj Ferra

Dia menambahkan, proyek tersebut tidak dimenangi PT Hutomo Mandala Perkasa yang bermarkas di Surabaya, Jawa Timur ini. “Bukan kami yang mengerjakan proyek itu,” ungkapnya.

PT Hutomo Mandala Perkasa merupakan salah satu dari 89 peserta tender proyek Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah I NTB. PT Hutomo Mandala Perkasa termasuk salah satu yang tidak menyerahkan dokumen penawaran.

Baca juga:  Kasus Jambanisasi Bayan 2016, Dua LHP Beda Kesimpulan Kerugian Negara

Pelebaran jalan ruas Pemenang-Bayan-Sembalun dibiayai APBN 2018 dengan pagu anggaran Rp224,84 miliar. HPS disusun dengan nilai yang sama. Berdasarkan lama e-proc Kementerian PUPR RI, proyek diikuti 89 peserta.

Tender selesai pada September 2018. PT.EPJ yang bermarkas di Mataram, NTB memenangi proyek dengan harga penawaran Rp172,66 miliar.

Terpisah, Juru Bicara Kejati NTB Dedi Irawan menolak memberikan keterangan atas kasus yang masih dalam tahap pengumpulan bahan keterangan maupun penyelidikan. (why)