Jaringan Transnasional TPPO Suriah Belum Terungkap

Penyidik Subdit IV Ditreskrimum Polda NTB menunjukkan barang bukti dokumen kasus TPPO jaringan Suriah. (Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Polda NTB menangani 11 korban tindak pidana perdagangan orang sepanjang semester pertama tahun 2019 ini. Polanya, rata-rata para korban direkrut lewat pendekatan keluarga. Korban tersebut diberangkatkan ke negara-negara timur tengah.

Kasubdit IV Remaja Anak dan Wanita Ditreskrimum Polda NTB AKBP Ni Made Pujawati menerangkan bahwa saat ini empat kasus sedang di tahap penyidikan. Sisanya masih penyelidikan dan juga ada juga sudah dilimpahkan ke jaksa penuntut umum.

“Diimingi pekerjaan dengan gaji tinggi di luar negeri. Yang merekrut orang terdekat mereka. Bisa keluarga, bisa tetangga. Orang-orang yang mereka kenal,” bebernya akhir pekan lalu. Modus para pelaku, sambung dia, dengan mengirim korban ke tempat penampungan. Sejumlah penampungan yang terdeteksi antara di Malang dan Surabaya, Jawa Timur, serta Jakarta.

Baca juga:  Pengiriman TKI ke Timur Tengah Dibuka Lagi

Tempat penampungan itu sebagai transit sebelum korban diberangkatkan. “Orang yang memberangkatkan ini yang memberi upah kepada perekrut yang berhasil merekrut korban-korban,” terangnya. Sejumlah kasus yang baru-baru ini terungkap yakni pengiriman korban TPPO ke Damaskus, Suriah.

Korban dibuatkan paspor sebagai modal dokumen perjalanan ke luar negeri. Tujuan keberangkatan pun diakali menggunakan visa wisata. Hal tersebut terungkap dari kasus yang menimpa dua korban kakak beradik, SH dan UH yang diberangkatkan ke Suriah tahun 2015 lalu. Mereka berhasil kabur dari majikan dan menyelamatkan diri ke kedutaan RI.

Baca juga:  TPPO Arab Saudi, Korban PMI Terkatung-katung Sebelum Meninggal

Total empat tersangka dari jaringan Suriah ini sudah ditangkap. “Jaringannya mereka ini masih kita dalami. Pada intinya, unsur TPPO para tersangka sudah terpenuhi. Kasusnya segera kita limpahkan ke jaksa penuntut umum,” pungkas Pujawati. (why)