Kasus Agunan Lahan LCC, Jaksa Periksa Analis Kredit Bank Sinarmas

Corporate Credit Analyst Bank Sinarmas Anula Putra (kiri) meninggalkan kantor Kejati NTB usai menjalani pemeriksaan terkait penyidikan kasus lahan aset Pemda Lobar pada pusat perbelanjaan LCC Narmada Lombok Barat. (Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Jaksa melanjutkan pemeriksaan saksi dalam penyidikan dugaan korupsi pengelolaan aset Pemda Lombok Barat untuk Lombok City Center (LCC). Kali ini saksi dari Bank Sinarmas mendapat giliran menghadap jaksa penyidik Pidsus Kejati NTB.

Pemeriksaan itu terkait proses penyertaan lahan seluas 8,4 hektare di Narmada itu untuk dijadikan agunan. Corporate Credit Analyst Bank Sinarmas Anula Putra mendatangi Kantor Kejati NTB di Mataram, sekitar pukul 09.00 Wita pada Rabu, 19 Juni 2019 kemarin. Anula didampingi Head of Legal Officer Bank Sinarmas menemui jaksa penyidik.

Kehadirannya itu sesuai dengan surat panggilan jaksa penyidik terkait kapasitasnya sebagai saksi dalam kasus dugaan korupsi pada pengelolaan aset Pemda Lombok Barat seluas 8,4 hektare. Lahan tersebut dikelola menjadi pusat perbelanjaan Lombok City Center berkat kerjasama dengan Perusda PT Tripat.

Baca juga:  Kasus Dermaga Gili Air Mengerucut ke Calon Tersangka

Usai pemeriksaan, Anula enggan banyak berkomentar. Begitu pun juga dengan tim hukum yang mendampinginya. “Iya,” ujarnya singkat menjawab pertanyaan soal maksud kedatangannya ke Kejati NTB berkenaan dengan pemeriksaan kasus LCC tersebut.

Anula juga ditanyai perihal pertimbangan dan ketentuan prosedur standar operasional dalam permohonan kredit. Dalam hal ini dengan menyertakan agunan berupa alas hak aset Pemda Lobar pada PT Tripat tersebut untuk pengajuan kredit ke Bank Sinarmas.

Mendengar pertanyaan wartawan tersebut, Anula yang datang mengenakan pakaian batik malah bergegas masuk ke dalam mobil yang sudah menjemputnya sekira pukul 13.30 Wita. “Nanti dulu, saya tidak bisa kasih keterangan,” ujarnya sambil berlalu.

Asisten Tindak Pidana Khusus Kejati NTB Ery Ariansyah Harahap sebelumnya menyatakan bahwa pihaknya kini sedang mematangkan penyidikan kasus tersebut. Salah satunya dengan memanggil saksi-saksi untuk diperiksa. “Untuk yang dipanggil ini semua yang ada kaitannya,” terang Ery.

Baca juga:  Polda NTB Usut Proyek Dermaga Waduruka Rp4,52 Miliar

Jaksa penyidik mengumpulkan dua alat bukti dalam kasus yang ditaksir merugikan negara Rp1,7 miliar tersebut. Saat ini jaksa penyidik, sambung dia, sedang berkoordinasi dengan BPKP Perwakilan NTB untuk penghitungan kerugian negaranya. Pengelolaan aset Pemda Lobar melalui PT Bliss untuk pusat perbelanjaan LCC ditengarai ada indikasi penyimpangan.

Sebab dividen dari PT Tripat tidak lancar disetorkan. Pemda Lobar semestinya menerima sebesar 3 persen per tahun. Dihitung dari angka penyertaan modal dari bisnis pusat perbelanjaan itu. Bisnis pusat perbelanjaan itu dengan memanfaatkan lahan Pemda Lobar seluas 8,4 hektare. (why)