TPPO Jaringan Suriah Jual Anak Bekerja di Damaskus

Tersangka TPPO jaringan Suriah dalam pengamanan polisi, Selasa, 18 Juni 2019. (Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Jaringan jual beli orang ke Suriah tak pilih korban. Anak umur 13 tahun pun dikirim ke Damaskus, ibukota negeri timur tengah yang sedang konflik itu. Tiga tahun bekerja sebagai pembantu rumah tangga, korban pulang.

Korban, UH (13) manut saja ketika ditawari bekerja ke luar negeri. Tersangka Baiq Asmin (48) mengimingi pendapatan yang sama dengan korban SH, yakni 170 dollar atau kala itu pada tahun 2015 setara Rp6 juta per bulannya.

Kasubdit IV Remaja Anak Wanita Ditreskrimum Polda NTB AKBP Ni Made Pujawati, Selasa, 18 Juni 2019 menjelaskan bahwa korban UH diberangkatkan hampir bersamaan dengan korban SH.

Namun, proses pengurusan dokumen UH yang masih di bawah umur penuh rekayasa. Seperti diantaranya dugaan pemalsuan umur dalam dokumen KTP dan KK.

“Waktu mengurus paspor juga korban ini disuruh pakai baju yang tebal-tebal agar dikira sudah dewasa. Korban saat itu masih berumur 13 tahun,” bebernya.

Tersangka Asmin lalu memberangkatkan UH ke Malang, Jawa Timur. UH ditampung di rumah tersangka Baiq Hafizahara alias Evi (42), yang tak lain keponakan tersangka Asmin. Para korban

dijanjikan berangkat melalui perusahaan dengan lebih dulu diberi pelatihan. Namun nyatanya tidak.

Korban UH hanya tiga hari berada di Malang untuk selanjutnya berangkat ke Batam, Kepulauan Riau. Sampai di Batam, UH dikoordinasi untuk menumpang kapal feri menuju Malaysia. Dua malam menginap di sebuah apartemen di Kuala Lumpur, korban UH diterbangkan ke Damaskus, Suriah.

“Korban ini kakak adik sebelumnya dijanjikan bekerja di Abudabi, Uni Emirat Arab,” ungkap Pujawati. Selama bekerja, korban UH diupah setara Rp2,3 juta setiap bulannya. UH juga tidak satu majikan dengan korban SH. Hampir tiga tahun bekerja, mereka akhirnya jengah sehingga melapor ke KBRI di Damaskus.

Pada Desember 2018 lalu mereka dipulangkan. Pujawati menjelaskan, tersangka Asmin mendapat upah Rp3 juta dari Evi untuk setiap korban yang berhasil direkrut. “Soal berapa yang didapat tersangka penampung itu kita belum dapat petunjuk karena mereka ini bungkam,” jelasnya.

Para tersangka dijerat dengan pasal 10 dan atau pasal 11 juncto pasal 6 UU RI No 21/2007 tentang pemberantasan tindak pidana orang, yang ancaman hukumannya paling ringan penjara tiga tahun, maksimal penjara 15 tahun, serta denda minimal Rp120 juta dan maksimal Rp600 juta. (why)