Dua Terdakwa Akali LPJ Program Jambanisasi Desa Bayan

Terdakwa korupsi program jambanisasi Desa Bayan, Lombok Utara Raden Kertawala dan Raden Wirahadi menjalani sidang perdana di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Mataram, Rabu, 12 Juni 2019.  (Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Dua terdakwa korupsi program jambanisasi Desa Bayan, Lombok Utara tahun 2016, Raden Wirahadi dan Raden Kertawala menjalani sidang perdana, Rabu, 12 Juni 2019. Mereka didakwa korupsi Rp152 juta. Sejumlah uang itu tidak bisa dipertanggungjawabkan penggunaannya. Agar laporan terlihat bersih, laporan penggunaan dana dibikin fiktif.

Para terdakwa menjalani sidang dakwaan di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Mataram yang dipimpin ketua majelis hakim Anak Agung Ngurah Rajendra. Jaksa penuntut umum Anak Agung Gde Putra mengajukan dua dakwaan.

Baca juga:  Kasus Dana Porprov, Polda NTB akan Kaji LHP Inspektorat

Dana Desa Bayan tahun 2016 mencapai Rp855,7 juta. Sebagian diantarnya, yakni Rp684,7 juta dihajatkan untuk program jambanisasi bagi 545 kepala keluarga di 13 dusun di Desa Bayan, Kecamatan Bayan, Lombok Utara tersebut. Agung mengatakan, dua terdakwa itu bersama-sama membuat pertanggungjawaban fiktif. Sebabnya, ada pengeluaran yang sudah dipakai untuk keperluan lain.

Mereka memanfaatkan jabatannya, yakni Kertawala yang sebagai Kaur Keuangan Desa Bayan dan Wirahadi sebagai ketua tim pelaksana kegiatan. “Terdakwa bekerjasama dengan Amaq Hani selaku pemilik toko UD Sinar Selatan untuk membuat kuitansi pembelian material bangunan,” ucapnya.

Baca juga:  Kasus Sandang Pangan Lotim 2014, TNI, Polri dan Pengadilan Ikut Terima Parsel Lebaran

Meski demikian saksi Amaq Hani menolak. Alasannya, item barang berikut harga per satuannya tidak sesuai dengan yang ada di nota pembelian tersebut. Tetapi, Kertawala dan Wirahadi tetap kekeuh. “Di dalam rencana anggaran biaya harus menggunakan besi berukuran 10 setara 9,8 milimeter. Tetapi pada kenyataannya, besi yang digunakan berukuran delapan atau setara 7,8 milimeter,” jelas Agung. Menanggapi dakwaan tersebut, para terdakwa mengajukan eksepsi. Sidang selanjutnya diagendakan Rabu pekan depan. (why)