Batas Waktu Rekomendasi Kasus GNE Habis

Ibnu Salim (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Batas waktu untuk penyelesaian  piutang PT. Gerbang NTB Emas (GNE) sudah habis sejak 25 Mei lalu. Inspektorat meminta pihak GNE melaporkan hasil akhir penyelesaian, khususnya temuan kerugian perusahaan daerah mencapai  Rp 2,6 miliar.

Inspektorat Provinsi NTB sebelumnya mengingatkan PT. GNE soal tenggat waktu penyelesaian rekomendasi atas temuan kerugian perusahaan dimaksud. Batas waktu 60 hari sejak diserahkan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Mei lalu, agar tunggakan kerugian diselesaikan.

‘’Tenggat waktu 60 hari yang kita berikan sudah selesai,’’ kata Inspektur Provinsi NTB, Ibnu Salim, SH.,M.Si kepada Suara NTB kemarin.  Artinya, batas waktu penyelesaian atas rekomendasi sudah habis dan pihaknya meminta agar dilaporkan progress perkembangan penyelesaian kerugian perusahaan.

Berdasarkan monitoring penyelesaian LHP, ungkapnya, PT. GNE sesuai ketentuan  sudah menyampaikan progress tindak lanjut hasil pemeriksaan. Kesimpulannya,  pihak- pihak yang bertanggung jawab, salah satunya komit mengembalikan kerugian daerah.

‘’Para penunggak sudah menandatangani SKTJM (Surat Keterangan Tanggung Jawab Mutlak) untuk menuntaskan kerugian,’’ kata Ibnu Salim.

SKTJM itu sudah ditandatangani para pihak yang bertanggung jawab dengan jaminan  penyerahan sertifikat hak milik atas tanah. Penyerahan aset itu  disertai surat kuasa menjual. Sementara untuk nilainya, akan ditaksir oleh tim appraisal. “Nanti ditaksir oleh lembaga penaksir harga untuk menentukan apakah sesuai atau tidak dengan jumlah kerugian yang ditanggung,” katanya.

SKTJM kedua, para penunggak ada yang bersedia mencicil temuan itu hingga Maret 2020 mendatang.  Dengan SKTJM yang ditanda tangani, akan menjadi pegangan Inspektorat, khususnya PT. GNE dalam rangka upaya penyelesaian temuan.  Jika pihak penunggak ingkar, bisa jadi dasar proses pidana.

‘’Jadi semua sudah tanda tangan SKTJM. Sementara yang mencicil, cicilannya langsung ke rekening PT GNE pada Bank NTB,’’ jelasnya.

Dengan perkembangan itu, menurutnya menandakan ada progres penyelesaian oleh para pihak yang namanya tercatat dalam temuan Inspektorat. Meski sudah ada perkembangan, tidak berarti akan dilepas. Ibnu Salim mengaku akan terus memantau tiap perkembangan di GNE, sampai dengan batas akhir pelunasan sesuai kesepakatan sampai Maret 2020 mendatang.

Catatan sebelumnya, dari total temuan Rp 2,6 miliar, sebagian besar menjadi tanggungan Haris Budiharso senilai Rp 2,5 miliar. Sebelumnya Haris  dilaporkan ke Inspektorat terkait kasus pengelolaan keuangan PT. GNE yang terindikasi bocor.

Haris Budiharso sudah dipanggil beberapa kali untuk dikonfrontir dengan hasil audit Inspektorat tersebut. PT. GNE sedang siap siap melakukan penyitaan aset Haris. Dari hasil pemanggilan itu, yang bersangkutan mengakui piutangnya dan siap mengembalikan dalam bentuk asset berupa tanah di Kecamatan Tanjung, Lombok Utara seluas 1 hektar.  Hasil penjualan aset tanah setelah lelang itu akan dipakai menutup kerugian perusahaan. Jika kurang, akan dilakukan upaya penagihan lanjutan. (ars)