Kasus MAN IC Lotim 2015, Terdakwa Rekanan Kembalikan Rp200 Juta

Terdakwa Wakiran didampingi penasihat hukumnya menitipkan uang pengganti kerugian negara, Senin, 10 Juni 2019 di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Mataram. (Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Terdakwa korupsi proyek lanjutan pembangunan MAN Insan Cendikia Lombok Timur tahun 2015, Wakiran menitipkan uang sebesar Rp200 juta. Uang itu dihajatkan sebagai pengganti kerugian negara. Direktur PT Elita Mataram itu berharap keringanan hukuman.

Uang tersebut diserahkan untuk dititipkan kepada jaksa penuntut umum dalam sidang di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Mataram, Senin, 10 Juni 2019. Sidang sedianya mengagendakan pembacaan tuntutan penuntut umum. Agenda penitipan uang pengganti kerugian tersebut sudah diminta Wakiran sebelumnya.

Majelis hakim yang diketuai Anak Agung Ngurah Rajendra pun mengabulkan. Penyerahan uang titipan kepada jaksa penuntut umum Riauzin. Penasihat hukum Wakiran, I Ketut Sumertha menyatakan bahwa uang tersebut melengkapi titipan sebelumnya sebesar Rp100 juta, pada saat kasus tersebut dilimpahkan dari penyidik Polda NTB ke jaksa penuntut umum, Januari lalu.

Baca juga:  Proyek Bawang Bima Diduga Rugikan Negara Rp2,3 Miliar

“Tadi di hadapan majelis Rp200 juta. Pada saat tahap dua itu Rp100 juta. Jadi totalnya sementara keseluruhan Rp300 juta,” kata Sumertha ditemui usai persidangan. Dia mengklaim, kliennya pernah mengganti sebesar Rp275 juta, yakni kala kasus sedang dalam tahap penyelidikan. Uang sebesar itu, klaim Sumertha, merupakan yang tercatat dalam temuan audit BPK.

Sementara Riauzin menegaskan, pihaknya sedang menyusun surat tuntutan yang akan dibacakan pada sidang pekan mendatang, Senin (17/6). “Tentu itu akan dijadikan pertimbangan alasan meringankan,” ucapnya singkat. Dalam perkara itu, empat orang duduk di kursi pesakitan sebagai terdakwa. Antara lain, pejabat pembuat komitmen pada Kemenag Lombok Timur H M Yunus Syihabi –kini berdinas di Kantor Kemenag Kota Mataram; Kemudian, Direktur PT Archi Konsultan sebagai rekanan konsultan pengawas L Syukraningrat; serta rekanan pemenang tender, Direktur PT Elita Mataram Wakiran, dan Komisaris PT Elita Mataram Rubiatun.

Baca juga:  Diduga Korupsi Dana BOS, Mantan Kepala SMAN 1 Monta Dituntut 1,5 Tahun

Proyek lanjutan MAN IC Lotim tersebut dikerjakan dua tahap. Pertama pekerjaan pendahuluan, bangunan kelas lama lanjutan, bangunan asrama lama lanjutan, bangunan ruang makan dan bangunan asrama putri yang totalnya Rp4,6 miliar.

Tahap kedua berupa pekerjaan pendahuluan dan bangunan asrama putri dengan anggaran Rp4,1 miliar. Pekerjaan konstruksi bangunan itu wajib selesai 31 Desember 2015. Namun ternyata molor sampai 12 Januari 2016. Terdakwa Syukraningrat sebagai konsultas pengawas membantu dua terdakwa itu untuk membuat laporan pekerjaan yang progresnya 100 persen. Berdasarkan laporan itu PPK melakukan pembayaran lunas.

Sementara ahli Universitas Mataram menemukan fisik pekerjaan tidak sesuai. Auditor BPKP Perwakilan NTB menghitung nilai kekurangan tersebut sebesar Rp757,7 juta. (why)