TPPO TKI, Mafia Jual Beli Orang ke Suriah

Penyidik Subdit IV Renakta Ditreskrimum Polda NTB menggiring para tersangka TPPO jaringan Suriah kembali masuk ke sel tahanan Rutan, Selasa, 7 Mei 2019. (Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Polda NTB menangkap lima tersangka tindak pidana perdagangan orang (TPPO) ke Suriah dari dua kasus yang ditangani. Mereka semua punya modus sama. Mulai dari iming-iming gaji besar ke korban sampai ke jalur pemberangkatan yang berpendar.

Kasubdit IV Remaja Anak Wanita Ditreskrimum Polda NTB AKBP Ni Made Pujawati menjelaskan bahwa meski dua kasus ini tidak saling terkait, tetapi modusnya serupa. Mereka mencari korban lewat relasi keluarga. “Mereka mengakui sudah beberapa kali memberangkatkan. Tapi fakta hukumnya, satu kasus korbannya satu orang. Satu kasus lainnya korbannya dua orang. Sama-sama dikirim ke Suriah,” jelasnya, Selasa, 7 Mei 2019 kemarin.

Turut hadir dalam konferensi pers tersebut Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi NTB H. Agus Patria; Kepala BP3TKI Provinsi NTB Yohannes Selan; dan Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Provinsi NTB Hj Ratningdiah.

Lima tersangka itu antara lain, BA (48) dan BE (42) yang bersekongkol memberangkatkan SH (37) ke Suriah pada September 2015. Tersangka BE yang berperan sebagai penampung membayar Rp3 juta kepada BA yang sukses merekrut.

Korban asal Lingsar, Lombok Barat sempat bekerja selama tiga tahun. Itu sebelum akhirnya dia kabur pada tahun 2017. Sebab. Lima bulan bekerja hanya digaji setara Rp13,7 juta. Korban dijanjikan bekerja di Abu Dhabi. Tapi nyatanya ke Suriah. Jalurnya, ditampung lebih dulu di Malang, Jawa Timur kemudian diberangkatkan bersama korban lainnya.

Mereka melalui Kuala Lumpur, Malaysia dengan transit di Kuwait dan Libanon lebih dulu, sampai akhirnya tiba di Damaskus, Suriah. Kasus lainnya melibatkan tiga tersangka yakni HM alias HL yang menyuruh perekrut AK (59) dan SJ (36) merekrut korban IH dan RM di Suralaga, Lombok Timur sekitar April 2016.

Tersangka HM sebagai penampung menginapkan dua korbannya di hotel berbintang di Jakarta. Tak sampai sepekan korban dikirim ke Suriah. AK dan SJ sebagai perekrut diupah HM masing-masing Rp2,5 juta. “Iming-imingnya gaji tinggi tanpa potongan, ada kontrak kerja, dan sesuai negara tujuan,” ungkap Pujawati. Para tersangka dijerat dengan Pasal 10 dan atau Pasal 11 Jo Pasal 4 Undang-undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). (why)