Konsultan Pengawas Langganan Menang Proyek MAN IC Lotim

Ketua Pokja ULP Kemenag Lotim M Hasanain memberi kesaksian dalam sidang perkara korupsi MAN IC Lotim, Senin, 4 Maret 2019. (Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Ketua Pokja ULP Kemenag Lombok Timur, M Hasanain bersaksi dalam persidangan perkara korupsi proyek lanjutan MAN Insan Cendikia Lombok Timur. Proyek dua tahap pada 2014 dan 2015 dimenangi konsultan pengawas yang sama. Proyek tahap kedua kemudian bermasalah.

Hasanain memberikan kesaksian dalam persidangan di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Mataram, Senin, 4 Maret 2019. Dia bersaksi dalam sidang terdakwa H M Yunus Syihabi, L Syukraningrat, Wakiran, dan Rubiatun. “Tahap kedua itu pembangunan lanjutan. Harga Perkiraan Sendiri dari PPK itu Rp9,8 miliar,” ucapnya menjawab pertanyaan jaksa penuntut umum Budi Tridadi Wibawa dalam sidang yang dipimpin ketua majelis hakim Anak Agung Ngurah Rajendra.

Hasanain melanjutkan, proses lelang dimulai setelah PPK, yakni terdakwa Yunus mengajukan surat permintaan lelang. Di dalam surat tersebut juga tertera gambar pekerjaan dan Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS). “Itu ada item pekerjaan di sana disebutkan pembangunan ruang makan, ada asrama lanjutan, ruang kelas,” sebutnya.

Lelang proyek lanjutan gedung MAN IC Lotim itu diikuti 56 peserta. Tetapi hanya tujuh rekanan yang mengunggah dokumen penawaran. Termasuk diantaranya PT Elita milik terdakwa Wakiran yang dipimpin terdakwa Rubiatun. “Tujuh rekanan itu dievaluasi. Satu lulus evaluasi. PT Elita Mataram. Selanjutnya kepada yang lulus itu dilanjutkan evaluasi biaya dan kualifikasi,” ungkapnya.

Baca juga:  Proyek Bawang Bima Diduga Rugikan Negara Rp2,3 Miliar

Proses tender diwarnai sanggahan. Yakni berupa evaluasi teknis yang tidak mencantumkan rincian Pajak Pertambahan Nilai (PPn) sebesar 10 persen. “Ya karena di Lotim harga barang sudah masuk PPn,” jawabnya. PT Elita Mataram yang menawar Rp8,7 miliar kemudian diumumkan sebagai pemenang. Konsultan pengawas proyek juga ditender dengan HPS Rp198,6 juta. PT Archi Konsultan memenangi lelang tersebut. Seperti pada proyek tahap pertama sebelumnya.

“Ada 21 rekanan yang daftar, delapan upload dokumen penawaran. Satu pemenang. Semuanya anggaran itu dari APBN,” sebut Hasanain. Rekanan pemenang tender itu, sambung dia, bukan karena menawar dengan harga terendah melainkan memenuhi kriteria dan persyaratan.

“PT Elita ini terendah keempat. Ada yang lebih renda tidak dimenangkan karena di evaluasi teknis tidak mencapai kriteria. Jasa konstruksi tidak pakai harga terendah,” jelasnya.

Hasanain juga mengaku sebelum dan pada saat tender tidak pernah menemui para peserta lelang tersebut. Termasuk dengan PPK. “Tapi kalau Pak Syukran saya kenal. Karena sebelumnya dia menang tender juga di proyek tahap pertama,” terangnya.

Baca juga:  Kejari Mataram Tetap Tahan Kades Lingsar

Anggota majelis hakim Fathurrauzi kemudian menanyakan perihal independensi saksi Hasanain dalam mengevaluasi rekanan peserta tender. “Apakah dalam proses pengadaan tidak ada intervensi? Siapa KPA-nya pada saat itu,” tanya hakim.

“Waktu itu H. Nasrudin. Tahap pertama dan tahap kedua. Tidak ada (intervensi),” jawab Hasanain. Kala itu H Nasrudin sebagai Kepala Kemenag Lotim sebelum naik jabatan menjadi Kepala Kanwil Kemenag NTB. Proyek lanjutan MAN IC Lotim meliputi dua tahap, pertama pekerjaan pendahuluan, bangunan kelas lama lanjutan, bangunan asrama lama lanjutan, bangunan ruang makan, dan bangunan asrama putri yang totalnya Rp4,6 miliar.

Tahap kedua berupa pekerjaan pendahuluan dan bangunan asrama putri dengan anggaran Rp4,1 miliar. Pekerjaan konstruksi bangunan itu wajib selesai 31 Desember 2015. Namun ternyata molor sampai 12 Januari 2016. Terdakwa Syukraningrat sebagai konsultas pengawas membantu dua terdaakwa itu untuk membuat laporan pekerjaan yang progresnya 100 persen. Berdasarkan laporan itu PPK melakukan pembayaran lunas. Sementara ahli Universitas Mataram menemukan fisik pekerjaan tidak sesuai. Auditor BPKP Perwakilan NTB menghitung nilai kekurangan tersebut sebesar Rp757,7 juta. (why)