Dakwaan Berlapis untuk WNA Perancis Impor Narkoba 3,1 Kg

Terdakwa Dorfin Felix menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri Mataram, Senin, 4 Maret 2019. (Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Warga negara Perancis Dorfin Felix (35) menghadapi dakwaan jaksa penuntut umum dalam persidangan Senin, 4 Maret 2019 di Pengadilan Negeri Mataram. Dorfin yang sempat kabur dari tahanan ini didakwa dengan pasal berlapis. Satu diantaranya yang ancaman hukumannya.

Jaksa penuntut umum Ginung Pratidina mengajukan terdakwa Dorfin ke persidangan dengan dakwaan utama pasal 113 ayat 2  UU RI No 35/2009 tentang Narkotika. Juga dengan dakwaan kedua pasal 114 ayat 2 dan pasal 112 ayat 2 undang-undang yang sama.

Sidang dipimpin ketua majelis hakim Isnurul Syamsul Arif bersama hakim anggota Didiek Jatmiko dan Ranto Indra Karta. Penasihat hukum Prayudi mendampingi Dorfin. Ginung menguraikan, dua petugas Bea Cukai Mataram M Rizaldi dan Bernard Irab memergoki terdakwa Dorfin yang baru tiba di terminal kedatangan internasional Lombok International Airport Praya Lombok Tengah, Jumat (21/9/2018) pagi sekitar pukul 10.35 Wita.

Kala itu Dorfin baru tiba dengan menumpang Silk Air nomor penerbangan MI 124 rute Singapura-Lombok. Dua koper Dorfin terdeteksi berisi barang mencurigakan ketika melewati pemindai X-ray. Dua koper akhirnya diambil Dorfin. Pada saat bersamaan dua saksi tadi menghampiri. “Koper diperiksa di atas meja, saat itu terdakwa Dorfin Felix mencoba untuk melarikan diri keluar terminal kedatangan,” ungkap Ginung.

Baca juga:  Sepasang Calon Pengantin Kepergok Dagang Sabu

Dorfin sukses ditangkap bersama petugas Aviation Security dan TNI/Polri. Dorfin dibawa kembali ke ruang pemeriksaan. Dorfin ditunjukkan dua koper miliknya yang selanjutnya dibuka. Ginung menyebutkan bahwa isinya antara lain sembilan bungkus besar Metilendioksimetamfetamina (MDMA) atau ekstasi dengan berat kotor 2,47 kg, satu bungkus besar Amphetamine seberat 256,69 gram.

Kemudian, satu bungkus besar Ketamine seberat 206,83 gram, satu bungkus pil ekstasi berisi 828 butir atau setara beratnya 240,12 gram, satu bungkus ektasi berisi 22 butir pil atau seberat 12,98 gram. Sehingga totalnya seberat 3,19 kg. “Terdakwa dengan tanpa hak atau melawan hukum memproduksi, mengimpor, mengekspor atau menyalurkan Narkotika Golongan I dalam bentuk bukan tanaman yang beratnya melebihi lima gram,” kata Ginung mengurai isi pasal 113 ayat 2.

Baca juga:  Sepasang Calon Pengantin Kepergok Dagang Sabu

Dorfin, sambung dia, menuju Lombok dengan berangkat dari Saint-Exupery Lyon, Perancis. Terdakwa menggunakan pesawat Lufthansa rute Lyon-Singapura sebelum melanjutkan perjalanan ke Lombok. “Bahwa terdakwa diupah sebesar 5.000 euro atau setara Rp87 juta untuk mengantarkan narkotika,” ucapnya.

Atas dakwaan jaksa tersebut, Prayudi mengajukan eksepsi atau nota keberatan. Alasannya akan dia ungkapkan dalam persidangan selanjutnya. Selain itu, terdakwa Dorfin bersikeras untuk didampingi penerjemah berbahasa Perancis. Meskipun dalam sidang itu dia sudah didampingi penerjemah Bahasa Inggris, Toni Samsul Hidayat.

“Hak klien kami ini sudah diatur dalam KUHAP. Nanti dari pihak kami yang akan menghadirkan penerjemah bahasa Perancis ini. Kalau jaksa tidak bisa,” sebutnya. Sidang kemudian ditunda untuk dilanjutkan kembali pada Senin (11/3) mendatang. (why)