Polres Mataram Blender 107,7 Gram Sabu

Tersangka DC (ketiga dari kiri) memasukkan sabu yang dimusnahkan Rabu, 27 Februari 2019, disaksikan Kasatresnarkoba Polres Mataram Kadek Adi Budi Astawa (paling kiri), jaksa penuntut umum, penasihat hukum tersangka, dan panitera pengadilan. (Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Satresnarkoba Polres Mataram memusnahkan 107,7 gram barang bukti sabu. Narkoba sebanyak itu disita dari dua tersangka, IH alias IS (39) dan DC (23). Sabu tersebut dimusnahkan dengan diblender dan dibuang ke saluran air. Pemusnahan barang bukti dipimpin Kasatresnarkoba Polres Mataram AKP Kadek Adi Budi Astawa Rabu, 27 Februari 2019.

Turut hadir sebagai saksi jaksa penuntut umum, penasihat hukum tersangka, dan panitera Pengadilan Negeri Mataram. “Hari ini kita memusnahkan barang bukti sabu dari dua kasus. Totalnya seberat 107,7 gram,” ujarnya. Dia menambahkan pemusnahan barang bukti itu untuk keperluan menjalankan UU No35/2009 tentan Narkotika dan Perkap Kapolri. Sementara berkas perkara dua tersangka sudah dilimpahkan tahap satu ke jaksa.

Baca juga:  Janda IRT Lanjutkan Bisnis Jual Sabu Suami

“Ini juga untuk melengkapi berkas. Berkas dua tersangka ini sebelumnya sempat dikembalikan jaksa dengan disertai petunjuk,” kata Adi. Tersangka IH alias IS ditangkap Selasa (8/1) lalu di Karang Bagu, Karang Taliwang, Cakranegara, Mataram dengan barang bukti sabu seberat 20 gram. IH dipergoki sedang mengantarkan sabu dari bandar ke calon pembeli.

Sabu itu disimpan dalam dua poket masing-masing 10 gram. Satu poket ditemukan di celana tersangka, satu poket lainnya ditemukan di dalam laci depan sepeda motornya. Poketan sabu itu diduga milik YE yang juga memeroleh barang dari HD. Mereka masih tinggal di kampung yang sama. Tersangka IH diduga sebagai kurir yang diupah Rp200 ribu per satu kali pengiriman.

Baca juga:  Sepasang Calon Pengantin Kepergok Dagang Sabu

Sementara tersangka DC yang sehari-hari bekerja sebagai montir ini ditangkap dengan dugaan pengiriman sabu 87,5 gram. Tersangka DC sudah lima kali mengirim barang. Dia diupah antara Rp150 ribu sampai Rp200 ribu.

Untuk pengiriman terakhir yang membuatnya tertangkap itu, DC sedianya diupah Rp8 juta. Tetapi sabu gagal sampai ke calon pembeli sebab dia sudah lebih dulu menuju kantor polisi. “Saya disuruh mertua saya. Dia sudah di Lapas. Sudah ketangkap duluan,” kata DC mengakui perbuatannya. Upah mengantar sabu itu dipakainya untuk membeli susu bayinya yang baru berumur dua tahun. (why)