Operasi Tangkap Tangan, Oknum PNS Ambil ‘Fee’ Dana Rehabilitasi Masjid

Tersangka dugaan pungli dana rekonstruksi masjid terdampak gempa Lombok, BA, digiring penyidik Unit Tipkor Satreskrim Polres Mataram, Selasa, 15 Januari 2019 menuju ruang pemeriksaan. (Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Dana perbaikan masjid terdampak gempa Lombok disunat. Polres Mataram menangkap satu oknum PNS Kemenag Lombok Barat berinisial BA alias BK (49). Pria pegawai KUA Gunungsari ini diduga memotong dana transfer sebanyak 20 persen per satu masjid. Total dana yang dia raup mencapai Rp105 juta.

Polres Mataram telah menetapkan BA sebagai tersangka. Tersangka BA mulai menjalani penahanan di rutan Polres Mataram, sejak Selasa, 15 Januari 2019 siang. Usai penyidik Unit Tipikor Satreskrim mengantongi alat bukti yang cukup.

Tersangka BA sebelumnya tertangkap dalam operasi tangkap tangan (OTT) Senin (14/1) di Jalan Dusun Limbungan Selatan, Desa Taman Sari, Gunungsari, Lombok Barat sekitar pukul 11.00 Wita.

Kapolres Mataram, AKBP Saiful Alam menjelaskan bahwa tersangka memotong dana untuk masjid terdampak gempa sejak Desember 2018.

“Totalnya mencapai Rp105 juta itu dari empat masjid. Penerima diwajibkan menyetor kembali sebanyak 20 persen dari total dana yang diterima,” ucapnya, didampingi Kasatreskrim, AKP Joko Tamtomo.

Masing-masing masjid di Gunungsari tersebut mendapat kucuran dana rekonstruksi bervariasi antara Rp50 juta sampai Rp100 juta.

Antara lain Masjid Baiturrahman Limbungan Selatan, Desa Taman Sari, Gunungsari, Lombok Barat, dipungut Rp10 juta; Masjid Nurul Huda mendapat Rp100 juta dipotong Rp20 juta.

Masjid Al-Ijtihad menerima bantuan Rp50 juta dan dipotong Rp10 juta, serta Masjid Quba’ dimintai kembali Rp9 juta dari total Rp50 juta yang diterima. Tersangka mengetahui dana sudah masuk ke rekening masjid, kemudian menghubungi pengurus untuk meminta setoran.

“Ini ada proses lambat (rehab rekon pascagempa), tidak maksimal. Kami menyelidiki kemudian ada laporan dugaan pungli ini. Kemudian terhadap yang bersangkutan kita tangkap tangan,” ujarnya.

Dia menjelaskan, dari dokumen yang disita penyidik, sebanyak 58 masjid di enam kabupaten/kota terdampak gempa Lombok mendapat kucuran dana perbaikan. Total dananya mencapai Rp6 miliar.

Ada Indikasi Pemaksaan

Dana yang diduga dipungut tersangka BA merupakan pencairan tahap pertama dana rehabilitasi rekonstruksi masjid terdampak gempa. Sumber dana berasal dari pemerintah pusat melalui

Kanwil Kemenag NTB.

Alam mengatakan, pihaknya mendapat laporan dari masyarakat, bahwa pengurus masjid diminta untuk mengembalikan sejumlah dana dengan besaran tertentu dari total dana yang diterima.

“Ada indikasi paksaan. Apabila tidak memberikan (dana) maka diancam tidak akan diberikan bantuan lain di kemudian hari sehingga pengurus masjid memberikan,” terangnya.

Penyidikan sampai saat ini, penyidik baru menemukan alat bukti tentang tersangka yang beraksi seorang diri. Seorang staf Kemenag yang bekerja di KUA Gunungsari dengan berani memotong dana.

“Kemungkinan tersangka lain, ada. Tapi kita perlu melakukan pengembangan,” ucap Alam.

Tersangka BA dijerat dengan pasal 12e UU RI No20/2001 tentang perubahan atas UU RI No31/1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi. Ancaman pidananya penjara paling singkat empat tahun, maksimal 20 tahun. Serta denda minimal Rp200 juta dan paling banyak Rp1 miliar.

Kronologis OTT

Kapolres menjelaskan penangkapan tersangka BA yang tanpa disertai perlawanan berarti. Meski tersangka sempat mencoba untuk kabur. Sebab tersangka tertangkap basah menerima uang yang dimintanya dari pengurus masjid.

Unit Tipikor Satreskrim Polres Mataram menggerebek tersangka BA di tepi jalan Dusun Limbungan Selatan, Taman Sari, Gunungsari, Lombok Barat, Senin (14/1) pukul 11.00 Wita.

“Penyidik menerima informasi tentang akan adanya penyerahan uang,” ucap Alam.

Tersangka kala itu mengendarai sepeda motor menghampiri salah satu pengurus Masjid Baiturrahman. Tersangka menerima barang yang terbungkus plastik hitam.

Seketika penyidik yang sudah mengawasi sejak pukul 10.00 Wita langsung mengamankan tersangka. Bungkusan plastik hitam yang sudah rapi tersimpan di dalam jok digeledah.

“Isi plastik itu ada dua dua amplop yang berisi masing-masing Rp 5 juta. Di amplop ada stempel masjid dan angka nominal uang,” beber Kapolres.

Usai menangkap tangan tersangka BA, pada Selasa, 15 Januari 2019 agii Polres Mataram menggeledah ruang Bidang Pembinaan Masyarakat Islam pada Kanwil Kemenag NTB.

“Ini kan dana pusat makanya kita perlu bukti dokumen, seperti hasil verifikasi masjid rusak, penentuan besaran bantuannya, proposalnya,” tandasnya. (why)