Mantan Karo Ekonomi Pakai Kurir Ambil Amplop Tim Konsolidasi

Sopir mantan Karo Ekonomi Setda NTB, Fahrul Hasani memberi keterangan sebagai saksi meringankan terdakwa perkara korupsi Konsolidasi Penggabungan PT BPR NTB, Rabu, 12 September 2018. (Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Sidang perkara korupsi konsolidasi penggabungan PT BPR NTB dilanjutkan dengan pemeriksaan saksi meringankan terdakwa. Yakni Fahrul Hasani, sopir mantan Kepala Biro Perekonomian Setda NTB, MR  yang menyaksikan penyerahan uang dari terdakwa Mutawali kepada mantan bosnya di Kantor BPR Lombok Timur.

Fahrul duduk di kursi persidangan Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Mataram, Rabu, 12 September 2018 di hadapan majelis hakim yang diketuai Anak Agung Ngurah Rajendra. Dia bersaksi untuk meringankan masing-masing terdakwa mantan ketua tim konsolidasi, Ihwan dan terdakwa Mutawali mantan wakil ketua tim konsolidasi.

Fahrul menyatakan salah satu orang yang menerima uang konsolidasi untuk keperluan lain-lain yakni MR. Dia tahu persis karena pernah menjalankan perintah MR untuk mengambil sejumlah uang.

“Itu tahun 2016 saya tidak ingat bulannya apa. Perintah (mengambil uang) itu setelah datang dari perjalanan dinas di Sumbawa,” ujarnya dalam sidang yang dihadiri Jaksa Penuntut Umum, Tri Budi Wibawa.

MR, sambung Fahrul, sedikitnya menerima dua kali pemberian uang dari terdakwa Mutawalli. Perjalanan dinas dimaksud ke Sumbawa dalam rangka pembinaan BPR.

Baca juga:  Dana Mengendap Rp2,2 Triliun Jadi Temuan BPKP

Setelah mengantar MR pulang usai perjalanan dinas, dia langsung diminta untuk pergi ke Lombok Timur.

“Saya disuruh ambil titipan ke Pak Mutawalli,” beber Fahrul. “Iya isinya uang. Pas saya mau jalan disetop, dia bilang cepat ya hati-hati karena itu isinya uang,” imbuhnya sambil mengulang percakapannya dengan MR.

Fahrul lantas bercerita bahwa dirinya bertemu terdakwa Mutawali di Kantor BNI Pancor, Selong, Lombok Timur. Tanpa banyak tanya, Fahrul mengambil titipan uang dimaksud.

“Saya sampai setelah magrib. Langsung saya serahkan ke MR,” ujarnya.

Kemudian pemberian kedua. Fahrul juga mengaku menerima amplop dari Mutawali di pelataran parkir Kantor DPRD Provinsi NTB. Amplop berisi uang yang dia ambil atas suruhan MR.

“Pas itu ada rapat. Ada MR juga di DPRD NTB. Setelah diperintah begitu, saya ke parkiran, tapi Mutawalli belum datang,” kata Fahrul mengingat-ingat.

Mutawali datang setelah rapat berakhir. Ketika itu, Fahrul sudah hendak beranjak pergi bersama MR dari Kantor DPRD NTB.

Baca juga:  Kejati NTB Selidiki Proyek Rehabilitasi Hutan Bima

“Saya sudah di dalam mobil, sama MR. Terus datang Mutawalli, dia langsung masuk ke dalam mobil, serahin uang,” tutur Fahrul.

Hakim Rajendra kemudian mengulik fakta dari keterangan Fahrul. “Pernah gak, pas bilang ambil titipan, itu (MR) bilang pinjam? Atau ada kuintasinya?”, tanya Rajendra.

Fahrul tegas menjawab. “Tidak ada bilang pinjam. Cuma disuruh ambil titipan. Kuitansi juga tidak ada,” ujarnya.

Penasihat hukum Ihwan, Umaiyah menanyakan serah terima uang antara MR dengan Mutawali dan keterlibatan transaksi itu dengan kliennya. “Tidak ada. Cuma Mutawalli saja,” jawab Fahrul.

Fahrul mengaku pernah mengantar MR ke tempat karaoke di Labuhan Haji Lombok Timur. Bersama Mutawali mereka menghabiskan waktu sejak siang sampai sore.

Mutawali mengakui keterangan yang disampaikan saksi Fahrul. Termasuk karaoke bersama MR dan oknum anggota DPRD NTB yang merupakan servis hiburan tim konsolidasi. Sidang kemudian ditunda untuk dilanjutkan Jumat, 14 September 2019 dengan agenda pemeriksaan saksi lainnya. (why)