Tekong Sri Rabitah Dituntut Empat Tahun Penjara

Mataram (Suara NTB) – Tekong TKI, H Ijtihad dan anak buahnya, Hulpah dituntut penjara selama empat tahun. Mereka yang memberangkatkan TKW Sri Rabitah dan Juliani ke Qatar itu dituntut bersalah menjual orang yang masih di bawah umur.

Jaksa penuntut umum, Ginung Pratidina menuntut hakim agar menghukum para terdakwa dengan pidana penjara selama empat tahun. Selain itu, para terdakwa juga dituntut membayar denda Rp 120 juta.

Apabila denda tidak sanggup dibayarkan maka harus diganti dengan pidana kurungan selama tiga bulan. Inovasi hukum yang dibuat jaksa dalam kasus itu yakni soal penuntutan yang mewajibkan terdakwa membayar ganti rugi kepada korbannya.

“Serta diwajibkan membayar restitusi atau ganti kerugian kepada saksi Yuliani sebesar Rp 36.485.375 sebagaimana penghitungan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK),” kata Ginung di hadapan majelis hakim Pengadilan Negeri Mataram.

Apabila uang restitusi itu tidak dibayarkan terdakwa, sambung Ginung, maka terdakwa harus menggantinya dengan pidana kurungan selama tiga bulan.

Tuntutan itu berdasarkan dengan unsur pidana yang terbukti yakni sesuai diatur pasal 10 juncto pasal 6 UU RI No 21/2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).

Menurut Ginung, hal yang memberatkan terdakwa antara lain perbuatan mereka menimbulkan keresahan masyarakat. Kemudian mengakibatkan korban yang bekerja di luar negeri tidak mendapat perlindungan hukum dan hak-haknya.

Hal yang meringankan terdakwa antara lain terdakwa mengakui dan berterus terang selama persidangan, serta sebelumnya tidak pernah tersangkut kasus pidana.

Sidang kemudian ditunda sampai Rabu, 3 Mei 2018 pekan depan. Agendanya mendengarkan nota pembelaan para terdakwa yang disampaikan penasihat hukumnya.

Hulpah pada Februari 2014 mendatangi Sri Rabitah dan Juliani di Akar-akar, Bayan, Lombok Utara untuk mengajak korban bekerja di Abu Dhabi. Iming-imingnya, gaji tinggi dan pekerjaan ringan.

Dua korban itu kemudian diserahkan kepada H Ijtihad, selaku perekrut lapangan PT Falahrima Bersaudara. Dokumen korban diakali sehingga bisa diberangkatkan. Awalnya, dijanjikan ke Abu Dhabi tetapi kenyataannya ke Qatar.

Kasus itu kemudian mencuat setelah awal 2017 lalu, Rabitah pulang dengan keluhan kesehatan. Pun demikian Juliani yang mengeluh sakit di telinga dan wajahnya.

Sementara penyelidikan dugaan transplantasi ginjal Rabitah tidak dilanjutkan. Hasil pemeriksaan di RSUP NTB menyatakan dua ginjal rabitah masih utuh meskipun ditemukan ada peradangan. (why)