Penipuan Seleksi Masuk, Oknum Dosen Unram Dituntut Penjara 2,5 Tahun

0
16

Mataram (Suara NTB) – Dosen FKIP Unram, Hasanuddin Chaer, MPd dituntut penjara selama dua tahun enam bulan. Dia dinyatakan jaksa penuntut umum terbukti bersalah melakukan penipuan seleksi masuk Fakultas Kedokteran Unram senilai Rp 200 juta.

Jaksa penuntut Umum Wahyudiono menuntut terdakwa dengan pasal 378 KUHP juncto pasal 55 KUHP ayat 1 ke-1 tentang penipuan dalam sidang di Pengadilan Negeri Mataram, Kamis, 11 Januari 2018.

“Menuntut majelis hakim agar menjatuhkan pidana penjara selama dua tahun enam bulan dikurangi selama terdakwa berada dalam penahanan,” ujarnya di hadapan majelis hakim yang diketuai Didiek Jatmiko.

Sementara, oknum advokat Drs. Lalu Syukur, SH, MH dituntut penjara selama dua tahun. Syukur terbukti berkomplot dengan Hasanuddin untuk menipu korbannya.

Menurut jaksa, hal yang memberatkan yakni para terdakwa tidak dapat mengembalikan kerugian korban. Hasanuddin dituntut hukuman lebih tinggi lantaran lebih banyak menikmati uang hasil penipuan.

Dalam sidang tersebut, dua terdakwa langsung mengucapkan pembelaannya secara lisan. Penasihat hukum para terdakwa, DA Malik menyebutkan, para terdakwa memohon diringankan hukumannya.

“Meminta keringanan putusan. Juga berharap putusan yang adil dan laik berdasarkan fakta yang ada,” jelasnya.

Jaksa meyakini para terdakwa menipu dengan menjanjikan putri korban lulus masuk fakultas Kedokteran Unram dalam seleksi tahun 2016 lalu.

Mereka bertemu korban dengan dijembatani oknum guru SMA negeri di Lombok Timur, Baiq Tanti Yuliani. Korban bersama dua terdakwa dan Tanti membicarakan perihal seleksi ‘pasti lulus’ tersebut di rumah Hasanuddin di Selagalas, Cakranegara, Mataram.

Terdakwa Hasanuddin meminta korbannya uang pelicin sebesar Rp 150 juta. Namun Tanti menyampaikan kepada korban kebutuhan dana untuk masuk Kedokteran Unram mencapai Rp 200 juta.

Korban menyanggupi besaran uang pelicin tersebut dan menyerahkan kepada Tanti. Tanti kemudian menyerahkan kepada Syukur sebesar Rp 150 juta. Uang itu dibagi-bagi.

Terdakwa Hasanuddin mendapat bagian Rp 105 juta, terdakwa Syukur Rp 45 juta, dan sisanya menjadi bagian Tanti.

Sisa uang Rp 50 juta dari total Rp 200 juta yang diserahkan korban nyatanya masih disimpan oleh Tanti. Rp 20 juta dari sisa Rp 50 juta itu diberikan kepada Syukur.

Terdakwa Hasanuddin mendapat jatah Rp 2,5 juta dari Rp 20 juta tersebut. Sisanya jadi milik Syukur. Uang tersebut digunakan untuk keperluan mereka masing-masing.

Tak cukup sampai di situ, Syukur kembali meminta Rp 50 juta ke korban dengan dalih untuk keperluan menyogok tim seleksi penerimaan yang langsung disanggupi korban.

Setelah transaksi sejumlah uang tersebut yang totalnya mencapai Rp 250 juta, anak korban akhirnya tetap gagal lulus. (why)