ICW : Perilaku Korup Tak Berubah

0
73

Mataram (Suara NTB) – Anggapan sulitnya memberantas korupsi di Indonesia ada benarnya. Jika menilik hasil Survei Indonesian Corruption Watch (ICW) tahun 2017, bahwa masyarakat masih pesimis korupsi akan turun jika melihat perilaku korup yang tidak mengalami perubahan.

Kepada Suara NTB di Mataram akhir pekan kemarin,  Peneliti ICW, Laloa Ester menyebut, sebelumnya melakukan survei mulai April sampai Juni 2017. Sasarannya 133 kabupaten dan 46 diantaranya masyarakat kota, termasuk di NTB.

Hasil survei yang sebenarnya tidak mengejutkan, dalam poin pertanyaan ke 15. Responden melihat dalam kurun waktu dua tahun terakhir tidak ada perbaikan pada level perilaku korupsi.  Sebab tahun 2016, 70 persen responden menyebut meningkat, meski turun menjadi 55 persen  pada tahun 2017.  Tapi pada pertanyaan lain soal perilaku korup, tidak mengalami perubahan.

Jumlahnya responden 32 persen menyatakan tak ada perubahan tahun 2017, naik dibanding setahun sebelumnya hanya 18 persen. ‘’Kami mencatat, ada 87 persen masyarakat melihat tidak ada perbaikan pada level (perilaku) korupsi dalam setahun terakhir,’’ jelasnya.

Rujukan berdasarakn penelitian pihaknya, level tertinggi perilaku korupsi masih pada penerimaan pegawai sebanyak 56 persen. Pengadaan barang dan jasa 50 persen, implementasi anggaran 45 persen.

Pengalaman terjadinya tindak pidana korupsi juga mempengaruhi persepsi masyarakat, tertinggi di Pengadilan mencapai 86 persen, kedua Kepolisian 83 persen, kesehatan 60 persen, universitas dan mendaftar kerja sama sama 59 persen.

Ditanya soal pengalaman langsung dalam perilaku korup, masyarakat menjelaskan soal pelayanan yang diberikan di berbagai sektor terdapat biaya tidak resmi. Hasilnya, masih ada 25 persen di layanan administrasi pemerintahan, ke dua 41 persen di Kepolisian, 32 persen di Pengadilan.

‘’Jumlah rata-rata suap mencapai Rp 112.000. Sedangkan total korupsi kecil di Indonesia paling sedikit tahun lalu mencapai Rp 1,2 triliun. Catatan estimasi itu berdasarkan jumlah household rumah tangga Rp 64.771.000,’’ jelasnya.

Ester menyebut, praktik suap sudah bisa dihindari masyarakat karena dianggap tak wajar. Tahun 2017, 69 persen warga menganggap tak wajar, sisanya 26 persen masih anggap wajar.

Pada konten survei berikutnya,  sebenarnya ada harapan perilaku korup mulai tumbuh dari kesadaran masyarakat untuk menghindari. Dominan responden juga menegaskan korupsi sebagai hal yang tak wajar. Survei berdasarkan berbagai spektrum. Yang pernah menempuh pendidikan, 79 persen anggap korupsi tidak wajar, untuk jenis kelamin 72 persen laki laki dan 66 persen perempuan anggap korupsi juga melanggar. Responden berdasarkan pengeluaran atau belanja, Rp 1 juta sampai Rp 3 juta juga anggap hal sama.

‘’Artinya kebanyakan orang Indonesia cenderung mengatakan korupsi adalah tidak wajar,’’ jelas Laloa Ester.

Tapi sedikit berbeda dengan pendapat warga soal nepotisme. ‘’Kebanyakan orang Indonesia terus menolak nepotisme. Tapi  persentase mereka yang menganggap nepotisme adalah wajar meningkat jika di banding tahun 2016 sebanyak 20 persen menjadi 30 persen tahun 2017.’’

Jumlah mereka yang menganggap nepotisme adalah tindakan tidak etis tahun 2017 sebanyak 51 persen, justru turun 43 persen ditahun 2017.

Ada lima poin yang jadi temuan ICW. Diantaranya warga negara terus pesimis tren korupsi akan meningkat. Sebaliknya warga optimis tentang keseriusan pemerintah untuk melawan korupsi. Karena perlawanannya sudah pada level yang tinggi.

Ketiga, ada perbedaan yang signifikan antara kesiapan mengajukan keluhan dan pengalaman melakukan pengaduan keluhan yang sebenarnya. Keempat, suap kecil atau gratifikasi dianggap bentuk yang paling umum, sehingga didorong pencegahan. Terakhir, ada tren persepsi terhadap KPK mengalami kepuasan yang tinggi.

Pertanyaan berikutnya soal siapa yang paling berperan memberantas korupsi, tertinggi masih diduduki KPK dengan 63 persen. Selanjutnya presiden 37 persen, polisi 28 persen, masyarakat dan BPK 15 persen, Pemda 13 persen. Kejaksaan dan DPRD justru ada di urutan buncit, 8 persen. (ars)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here