Bubarkan Demo Bela Petani Sambelia, Polisi Dikecam

Mataram (suarantb.com) – Aksi demo yang dilakukan ratusan massa mengecam tindakan dugaan perampasan lahan milik petani Sambelia oleh PT Sadhana Arifnusa dibubarkan paksa oleh aparat kepolisian. Sejatinya, demo yang diikuti berbagai organisasi masyarakat dibawah komando aliasi Front Pembela Rakyat (FPR) Lombok Timur tersebut dilakukan Senin kemarin, 24 Juli 2017 dengan tujuan untuk membacakan pernyataan sikap di depan Kantor Bupati Lotim.

“Saat Koordinator Umum Samboza Huriah akan membacakan pernyataan sikap, belum selesai membaca pihak kepolisian memasuki barisan aksi. Dan meminta untuk memberhentikan pembacaan sikap, secara tiba-tiba langsung membubarkan massa aksi,” ungkap Koordinator FPR NTB, Zuki Zuarman dalam rilis yang diterima suarantb.com, Selasa, 25 Juli 2017.

Zuki mengecam tindakan ini. Ia menyesalkan karena pembubaran ini disertai dengan tindakan represif berupa pemukulan. Sehingga berdampak pada beberapa massa aksi mengalami luka-luka dan disertai pula dengan penangkapan sejumlah massa aksi oleh aparat kepolisian Lombok Timur.

“Ozil, mahasiswa dalam barisan aksi dipukul dan luka di tangannya, Fran dipukul dan ditendang

menggunakan pentungan polisi. Dua massa aksi yang ditangkap yakni Samboza Huriah dengan alasan untuk memberikan keterangan dan Rosi ditangkap karena dituduh melempar,” bebernya.

Sebelumnya, aksi menolak kemitraan antara petani Sambelia dan PT Sadhana Arifnusa pada 17-18 Juli 2017 diakui Zuki juga menuai intimidasi dan kekerasan oleh pihak PT. Shadana dibantu aparat kepolisian dan TNI. Hingga berbuntut pada penangkapan 35 orang petani, dan tujuh orang ditetapkan menjadi tersangka. Bahkan, satu orang dilaporkan meninggal dunia atas nama Inak Rohan, saat berada dalam tahanan.

Berdasarkan Izin Usaha Pemanfaatan Hutan Hasil Kayu (IUPHHK) PT. Shadana Arifnusa tahun 2011 ditetapkan akan menjalankan program Hutan Tanaman Industri (HTI) di lahan seluas 1.883 hektar yang di dalamnya, yang di dalamnya mengambil lahan petani seluas 602 hektar.

“Dari pengajuan lahan PT. Shadana Arifnusa tidak pernah melakukan sosialisasi terhadap petani. Kenyataan inilah yang kemudian membuat petani merasa dirugikan dan menolak program HTI yang dicanangkan melalui konsep kemitraan, yang timpang dan tidak menguntungkan kaum tani Sambelia,” tambahnya. (ros)