Menelusuri Bisnis Syahwat di Hotel Berbintang

Mataram (Suara NTB) – Praktik prostitusi tak hanya kelas receh seperti di Pasar Panglima (dulu, Pasar Beras). Praktik terselubung dengan mangsa kalangan berduit telah lama mengakar. Bisnis ini jadi pekerjaan sampingan. Pengelola bahkan karyawan hotel diduga kuat sengaja menyiapkan pekerja seks komersil (PSK) untuk melayani tamu berdompet tebal.

Suara NTB mencoba menelusuri praktik prostitusi semacam ini di Kota Mataram. Lewat akun media sosial beberapa perempuan dengan berpakaian seksi memampang fotonya. Sebuah akun perempuan berinisial L coba saya ajak berkomunikasi.

Dengan mudahnya ia menawarkan diri. Tarifnya relatif murah bagi pria berkantong tebal. Untuk kencan selama tiga jam hanya dibanderol Rp 1,3 juta. Dia juga menawarkan durasi kencan selama 10 jam. Jelas dengan harga dinaikan sampai Rp 2 juta.

L mengaku bekerja di salah satu hotel di Jalan Panca Usaha Kota Mataram. Saat proses transaksi, L tidak mau bersentuhan dengan pelanggan apalagi bernegosiasi soal harga.

Ia mengarahkan agar berhubungan langsung dengan bosnya. Yang tak lain pegawai di hotel tersebut.
“Hubungi bos L 085246997xxx,” pintanya untuk segera menghubungi RK.

Suara NTB mencoba menghubungi RK yang diduga sebagai mucikari. Disambung telepone terdengar R sibuk dan berbicara pelan – pelan. Negosiasi pun terjadi. Ia awalnya memasang tarif Rp 1,5 juta untuk tiga jam kencan. Tarif ini sekaligus bayar kamar. Sampai pada akhirnya harga disepakati Rp 1 juta selama tiga jam.

Namun demikian, RK tidak bisa menjamin apakah perempuan yang dibooking bisa melayani atau tidak. “Tapi aku tidak jamin yah. Kalau L bisa nemeni kamu. Bisa saja sudah ada yang booking dulu,” jawabnya.

Baca juga:  Banyak Hotel Belum Bisa Tampung Pekerja Asal Mataram

Tidak saja L. Perempuan lainnya AS yang mengaku bekerja ditempat sama juga menawarkan jasanya. Proses transaksinya berbeda. AS meminta bayaran via transfer 40 persen sebelum kencan. Sisanya dibayar setelah selesai main. AS mematok bayaran Rp 1,5 juta untuk durasi tiga jam.

Di aplikasi medsos yang sama. SA juga menawarkan jasa kencan. Tarifnya berbeda karena kencan di hotel melati. SA mematok harga Rp 700 ribu sekaligus bayar kamar hotel di Jalan Sriwijaya.

Berbeda lagi dengan VL. Dengan pakaian mini terang – terangan membuka penawaran jasa kencan. Kali ini, VL hanya menunjuk sebuah hotel berbintang di jalan Pejanggik untuk kencan. Tarifnya Rp 1,3 juta plus sewa kamar hotel. Dengan bayar itu VL menemani kencan hingga pukul 05.00 pagi.

Suara NTB mencoba menemui salah seorang pegawai hotel berbintang di Mataram. Ia mengatakan, secara khusus tidak ada ruangan yang disiapkan pengelola hotel untuk menyembunyikan PSK. Kalaupun ada hanya menginap lima sampai tujuh hari saja. Itupun telah dibooking oleh wisatawan mancanegara.

“Kalau spa dan karaoke baru ada. Mereka tinggal di sana (hotel, red),” tutur sumber yang enggan dikorankan namanya.

Sumber tak menampik jika praktik tersebut terjadi di hotel berbintang. Pengelola menyiapkan untuk tamu yang membutuhkan teman kencan. “Kadang ada saja tamu bisik – bisik mau cari cewek,” tambahnya.

Baca juga:  Razia Pekat Temukan Pasangan Hamil di Luar Nikah

Prostitusi terselubung yang terjadi di hotel berbintang di Kota Mataram tak ditampik oleh Kabid Trantibum dan Linmas Satpol PP Kota Mataram, Bayu Pancapati. Ia mengaku pernah melakukan investigasi sama terhadap praktik tersebut. “Ini sudah hal lumrah. Karena, saya juga pernah mencari tahu soal itu,” kata Bayu.

Satpol PP tidak bisa berbuat banyak terhadap pelanggaran tersebut. Pemilik hotel selalu berkelit dan pandai menyembunyikan fakta.

Pihaknya mendapatkan kesulitan apalagi masuk hotel berbintang untuk merazia. Pelaku pariwisata selalu memilik tameng alasan mengganggu pariwisata. “Pol PP tidak bisa masuk. Kecuali disiapkan aquarium khusus baru bisa kita tindak,” tambahnya.

Menjadi persoalan kata dia, pengelola maupun karyawan hotel menyiapkan perempuan karena permintaan tamu. Pengunjung biasa berbisik – bisa dengan security atau pegawai hotel memesan perempuan.

Oleh karena itu, pihaknya perlu hati – hati bertindak. Jangan sampai Satpol PP disalahkan dan diklaim mencari keributan serta mengganggu pariwisata.

Menanggapi praktik tersebut, Ketua Asosiasi Hotel Mataram, Ernanda mengatakan tidak mungkin anggotanya menyiapkan PSK. Karena, hal itu menyalahi aturan.

Tetapi sebaliknya, jika ternyata memang ditemukan dan cukup bukti. Ia mempersilahkan diproses sesuai aturan hukum yang ada. “Di Golden Palace jika ditemukan karyawan yang menyediakan atau membantu tamu mencari PSK akan diberikan sanksi dikeluarkan,” tegasnya. (cem)