Dugaan Penistaan Agama, Ditahan Jaksa, Siti Aisyah Pasrah

Mataram (Suara NTB) – Tersangka dugaan penistaan agama, Siti Aisyah dilimpahkan penyidik ke jaksa Kejari Mataram. Pemilik Rumah Mengenal Al-Qur’an itu pasrah saat dimasukkan ke jeruji besi.

Siti Aisyah sempat bercanda dengan penyidik Subdit I Kamneg Ditreskrimum Polda NTB saat digiring memasuki kantor Kejari Mataram, Senin, 29 Mei 2017 sekitar pukul 12.00 Wita.

“Kalau memang terbukti salah saya siap dihukum. Hukum saja saya seberat-beratnya,” kata Aisyah berkelakar mengenai penahanan dirinya.

Ia mengaku pasrah atas proses hukum yang ia jalani. Dalam pelimpahan itu pun ia tidak didampingi penasehat hukum. Meskipun ia tahu ia memiliki hak untuk itu.

“Sudah tidak perlu bela diri atas apa yang saya sampaikan soal berita Al-Qur’an yang dianggap menyesatkan,” kata dia berkilah.

Namun tetap saja Aisyah bersikeras soal apa yang diyakininya.Walau memang tidak ada satu pun yang ikut tertarik soal ajarannya.

“Saya merasa itu saya ajarkan atau tidak itu kembali ke hati nurani. Sampai sekarang saya tidak memiliki satu pun pengikut atau jamaah,” terangnya.

Dalam operasional Rumah Al-Qur’an, Aisyah membagikan selebaran berisi kutipan ayat Al-Qur’an. Tak hanya itu, pengunjung ruko di Jalan Bung Karno, Mataram itu – yang sudah ditutup paksa – juga dibagikan uang.

“Itu saya berzakat. Tidak berhitung saya. Saya punya kemampuan

segitu,” katanya. Pengunjung yang datang ketika pulang disisipi selebaran dan amplop Rp 50 ribu.

Sumber uang itu, sambung Aisyah, adalah murni dari dirinya pribadi. Ia menolak tuduhan mengenai ada aktor intelektual yang berlindung di belakangnya.

“Murni diri sendiri. Saya punya toko pakaian dan aksesoris. Itu saya rintis dari awal,” paparnya. Ia mengaku pasrah meninggalkan keluarga. Ia sadar kesalahannya.

“Saya membuat masalah saya yang tanggung. Dari syiar, perjalanan, dan jihad saya. Saya ambil satu dasar hukum saja. Saya bersikeras tetap Al-Qur’an,” ujarnya tidak bergeming mengenai keyakinannya yang sudah difatwa menyimpang oleh MUI NTB.

Kasi Pidum Kejari Mataram, Safwan Wahyopie menjelaskan, pihaknya sudah menerima pelimpahan tahap dua dari Polda NTB dengan tersangka Siti Aisyah.

“Sudah menerima tahap dua Siti Aisyah mengenai kasus pasal 156 dan atau pasal 156a KUHP,” ujarnya.

Meski selama penyidikan di Polda NTB tersangka ditahan, tetapi jaksa memiliki pendapat lain. “Tersangka dilakukan penahanan,” tegasnya.

Ia mengemukakan, penahanan itu didasarkan alasan subjektif dan objektif jaksa yang menyimpulkan bahwa harus dilakukan penahanan terhadap tersangka.

Siti Aisyah akan mendekam di Lapas Mataram. jaksa memiliki waktu hingga 20 hari ke depan untuk melimpahkan surat dakwaan ke pengadilan. (why)