Polisi Klarifikasi Delapan Saksi Kasus Dugaan Penodaan Agama di RMA

Mataram (Suara NTB) – Polda NTB memeriksa delapan orang saksi terkait dugaan penodaan agama Rumah Mengenal Al-Qur’an (RMA). Sejumlah saksi itu untuk mendalami dugaan indikasi pidana terlapor, SA (48) yang kegiatannya ditutup sejak Senin, 30 Januari 2017.

Saksi-saksi itu diantaranya, saksi terlapor, SA; putra terlapor, LR; kepala lingkungan; lurah setempat; dan saksi terkait lainnya.

“Saksi yang mengetahui situasi, kondisi kegiatan yang bersangkutan,” kata Dirreskrimum Polda NTB, Kombes Pol Muhammad Suryo Saputro, Kamis, 2 Februari 2017 di Mapolda NTB

Polisi juga telah menyita sejumlah barang bukti diantaranya, pamflet, selebaran berisi terjemahan ayat, dan

perlengkapan elektronik untuk mengakses internet.

Dari sejumlah keterangan, diketahui SA berkegiatan sejak November 2016 lalu terhitung waktu menyewa ruko di kawasan Jalan Bung Karno itu.

Saksi ahli dari MUI NTB menyebutkan, ada dugaan bahwa ajaran yang disebarkan SA tidak sesuai dengan kaidah agama Islam.
Hasilnya, kata Suryo, SA berupaya menyebarkan ajaran yang tidak sesuai dengan kaidah agama. “Tidak sesuai ketentuan yang ada,” ujarnya.

RMA yang didirikan SA di Jalan Bung Karno, Pajang, Mataram ditutup petugas Senin, 30 Januari 2017 lalu. Kegiatan itu berikut pemiliknya, SA dilaporkan MUI NTB atas dugaan penodaan agama ke Polda NTB. (why)