Pengakuan Mahasiswa Asal Lombok Peserta Diksar Maut Mapala Unisi UII

Mataram (Suara NTB) – Dua dari 37 mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) yang mengikuti Diksar Mapala Unisi UII, akhirnya menemui ajalnya. Beberapa mahasiswa asal Lombok ternyata juga ikut menjadi korban dugaan penganiayaan dalam kegiatan Diksar maut tersebut.

Diksar yang bertempat di Gunung Lawu, Provinsi Jawa Tengah itu kini tengah menjadi sorotan karena adanya korban tewas. Sementara, sejumlah korban lainnya juga ikut mengalami luka serius, diduga akibat dianiaya.

“Selama pendidikan di Gunung Lawu itu kita diperlakukan dengan kasar. Ditendang, dipukul, digebukin hingga berdarah. Saya saat ini masih dirawat di rumah sakit, saya rasa itu bukan pendidikan tapi siksaan. Saya merasakan sakit yang sangat di bagian perut,” aku INHL (19), kepada Suara NTB melalui telepon seluler, Senin, 23 Januari 2017. INHL adalah salah seorang mahasiswa asal Lombok yang ikut dan mengalami penganiayaan dalam kegiatan Diksar tersebut.

INHL mengaku disiksa oleh seniornya bersama rekannya yang lain. Pendidikan dasar itu dilaksanakan sejak 14 hingga 22 Januari 2017. Semua peserta tidak diperkenankan membawa telepon genggam maupun alat komunikasi lainnya. Sehingga kasus ini baru diketahui saat pendidikan telah usai pada hari Minggu 22 Januari 2017.

“Kami diperlakukan tidak manusiawi, padahal niat kami ingin mengikuti pendidikan sebagai anggota Mapala. Tapi kami justru disiksa, dididik melebihi militer. Dipukul sana sini oleh senior kami,” akunya.

Saat ini ia tengah dirawat di salah satu rumah sakit di Yogyakarta. Hingga saat ini darah tidak behenti keluar dari duburnya. Sebab ia mengaku perutnya ditendang dan dipukuli. Ia berencana akan mendatangi pihak kampus untuk meminta pertanggungjawaban setelah sembuh.

“Saya sudah hubungi keluarga saya di Lombok, saat ini sedang di perjalanan ke Yogya. Saya tidak yakin bisa sembuh dalam waktu dua atau tiga hari. Jadi saya meminta keluarga saya yang urus. Begitupula rekan-rekan saya yang lainnya,” ujarnya.

Saat dihubungi Suara NTB, keluarga korban mengaku kecewa dengan pendidikan yang tidak baik yang diberikan oleh senior di Mapala Unisi UII.

Sementara itu, manajemen Kampus UII hingga saat ini tidak memberikan tanggapan atas upaya klarifikasi yang dilakukan Suara NTB. Sejumlah panggilan telepon dan permintaan wawancara melalui pesan singkat yang dikirimkan tidak mendapatkan jawaban. (lin)