Buni Yani Jadi Tersangka, Sang Ibu Mengaku Pasrah

Selong (Suara NTB) – Ditetapkannya Buni Yani sebagai tersangka oleh Polda Metro Jaya membuat ibu dan keluarga Buni Yani merasa terguncang. Namun, ibunda Buni Yani, Hj. Rohan (70), mengaku telah memasrahkan nasib anaknya kepada Tuhan.

Ditemui Suara NTB di rumahnya, Kamis (24/11), Hj. Rohan mengaku hanya bisa pasrah atas kasus hukum yang menjerat anak ketiganya itu. Kendati demikian, ia tetap meyakini anaknya tidak bersalah, karena di mata keluarga, Buni Yani sosok anak yang jujur dan tidak pernah berniat buruk pada siapapun, apalagi sampai mencoreng nama baik seseorang.

Namun, di balik semua itu, ujarnya, Allah maha melihat, maha mendengar dan maha mengetahui persoalan yang dialami oleh setiap umatnya. Sehingga sebagai umat Islam yang percaya kepada kebesaran Tuhan, dirinya meyakini kebenaran akan selalu berpihak pada yang benar dan menghukum orang yang suka berbohong dan berbuat salah.

Di balik kasus hukum yang menjerat anaknya itu, Hj. Rohan yang saat itu matanya terlihat berkaca-kaca mengaku tetap tenang, meski terkadang ia harus memikirkan nasib anaknya yang saat ini dinyatakan bersalah oleh aparat kepolisian dengan ditetapkan sebagai tersangka.

Selain itu, komunikasi bersama keluarga dan Buni Yani tetap terbangun dengan baik. Bahkan, ketika Buni Yani ditetapkan sebagai tersangka pada Rabu, 23 November 2016, Buni Yani sempat menelepon sekitar pukul 21.00 WIB.

Pembicaraan ibu dengan anak itu, memang tidak berlangsung lama. Lewat telepon, Buni Yani menegaskan jika dirinya tidak bersalah dan kondisinya baik-baik saja. Saat Buni Yani menelepon, ia mengatakan saat itu sedang berada di Polda Metro Jaya untuk diperiksa oleh aparat kepolisian.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Awi Setiyono dalam keterangan persnya yang disiarkan sejumlah stasiun televisi nasional mengemukakan alasan pihaknya memberikan status tersangka kepada Buni Yani.

Awi Setiyono menjelaskan, pihaknya telah melakukan
pemanggilan terhadap Buni Yani selaku terlapor dan yang bersangkutan langsung hadir sebagai saksi.
Pemeriksaan Buni Yani sebagai saksi kemudian digelar hingga sekitar pukul 19.30 WIB. Setelah pemeriksaan sebagai saksi tuntas, pihaknya merasa bahwa hasil pemeriksaan, hasil konstruksi hukum dan pengumpulan alat-alat bukti dari penyidik telah dapat menjadi alasan penetapan Buni Yani sebagai tersangka.

“Sekitar pukul 20.00, dengan bukti permulaan yang cukup, yang bersangkutan saudara BY kita naikan statusnya menjadi tersangka. Bahwasanya yang bersangkutan, dari tuduhan persangkaan oleh pelapor, terkait pencemaran nama baik dan penghasutan SARA, yang dapat kita penuhi terkait dengan unsur-unsur perbuatan pidananya,” ujar Awi Setiyono.

Ia menjelaskan, materi yang menjerat Buni Yani bukanlah video berisi pidato Ahok. Melainkan, tiga paragraf kalimat yang menyertai video yang diunggah melalui akun Facebooknya tersebut.

“Perbuatan pidana itu bukan memposting video. Tetapi perbuatan pidana itu adalah menuliskan tiga paragraf kalimat di akun facebooknya ini,” ujar Awi Setiyono sembari memperlihatkan kertas berisi gambar dinding Facebook Buni Yani yang memuat kalimat serta video pidato Ahok tersebut.  (yon/aan)