Demi Buni Yani, Warga Lombok Panjatkan Doa di 11 Masjid

Selong (Suara NTB) – Sebagai bentuk solidaritas yang memang mengakar dalam budaya masyarakat Sasak, warga di Sakra Barat, Lombok Timur pun tak tinggal diam saat salah seorang putra daerah mereka, Buni Yani terlilit persoalan hukum. Bersama keluarga, warga, menggelar doa bersama di 11 masjid yang ada di daerah tersebut.

Adanya dukungan warga dalam bentuk doa bersama di 11 masjid itu disampaikan oleh ibunda Buni Yani, Hj. Rohan (70). Rohan mengakui, tidak banyak yang bisa diperbuat oleh pihaknya selain memasrahkan nasib anaknya kepada Tuhan.

Saat ini pihak keluarga setiap hari dan setiap malam juga memanjatkan do’a, baik yang dilakukan di rumah bersama keluarga maupun di 11 masjid bersama masyarakat yang ada di kecamatan Sakra Barat.

Buni Yani terakhir pulang ke rumahnya di Dusun Peteluan Desa Rensing pada bulan September lalu.

Seiring dengan kasus yang menjerat Buni Yani, beberapa masyarakat setempat juga sering mampir untuk sekadar bertanya dan memberikan dukungan moril terhadap pihak keluarga. Sikap itu merupakan suatu tradisi yang biasa dilakukan di masyarakat Sasak, khususnya di Desa Rensing.

“Masyarakat sering datang ke sini untuk bertanya maupun berpesan-pesan kepada keluarga,” tutur salah seorang adik kandung Buni Yani, Fathurrahman.

Selaku adik kandung, Fathurrahman sangat-sangat kecewa atas penetapan kakak kandungnya itu sebagai tersangka. Padahal menurutnya, Buni Yani tidak pernah sedikitpun mengubah transkrip video pernyataan Gubernur DKI Jakarta nonaktif, Basuki Thajaja Purnama (Ahok).

Selain dari pihak keluarga, keprihatinan juga datang dari masyarakat sekitar, seperti yang disampaikan Hj. Radiah. Radiah menuturkan, setiap melihat pemberitaan yang menyangkut Buni yani, ia selalu menangis. Menurutnya, Buni Yani merupakan orang jujur dan berasal dari keluarga yang cukup baik, suka membantu orang miskin dan anak yatim. Karenanya, ia sangat sedih melihat Buni Yani dijerat oleh kasus seperti itu.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Awi Setiyono dalam keterangan persnya yang disiarkan sejumlah stasiun televisi nasional mengemukakan alasan pihaknya memberikan status tersangka kepada Buni Yani.

Awi Setiyono menjelaskan, pihaknya telah melakukan
pemanggilan terhadap Buni Yani selaku terlapor dan yang bersangkutan langsung hadir sebagai saksi.
Pemeriksaan Buni Yani sebagai saksi kemudian digelar hingga sekitar pukul 19.30 WIB. Setelah pemeriksaan sebagai saksi tuntas, pihaknya merasa bahwa hasil pemeriksaan, hasil konstruksi hukum dan pengumpulan alat-alat bukti dari penyidik telah dapat menjadi alasan penetapan Buni Yani sebagai tersangka.

“Sekitar pukul 20.00, dengan bukti permulaan yang cukup, yang bersangkutan saudara BY kita naikan statusnya menjadi tersangka. Bahwasanya yang bersangkutan, dari tuduhan persangkaan oleh pelapor, terkait pencemaran nama baik dan penghasutan SARA, yang dapat kita penuhi terkait dengan unsur-unsur perbuatan pidananya,” ujar Awi Setiyono.

Ia menjelaskan, materi yang menjerat Buni Yani bukanlah video berisi pidato Ahok. Melainkan, tiga paragraf kalimat yang menyertai video yang diunggah melalui akun Facebooknya tersebut.

“Perbuatan pidana itu bukan memposting video. Tetapi perbuatan pidana itu adalah menuliskan tiga paragraf kalimat di akun facebooknya ini,” ujar Awi Setiyono sembari memperlihatkan kertas berisi gambar dinding Facebook Buni Yani yang memuat kalimat serta video pidato Ahok tersebut. (yon/aan)