Selain Tramadol, Polda NTB Incar Obat Keras Jenis Baru

Mataram (suarantb.com) – Polda NTB belum berhenti mengusut dugaan penyalahgunaan obat penenang. Selain jenis tramadol, rupanya muncul jenis baru yang sedang tren di kalangan remaja. Merk  obat itu, Triphexyphenidyl.

Jika Tramadol dimanfaatkan sebagai obat penenang, Triphexyphenidyl berdasarkan resep dokter dikonsumsi oleh pengidap sakit jiwa. Efeknya sama dengan obat daftar G lainnya, untuk penenang.

Secara kebetulan obat ini ditemukan dari tersangka Bandar Tramadol Dasan Agung Bulan Oktober lalu, yang kini kasusnya sudah P21 di Kejati NTB.

“Dari tersangka yang kami tangkap waktu itu, kami sita satu kardus Triphexyphenidyl,” kata Kasubdit III Ditresnarkoba Polda NTB, AKBP Anak Agung Gede Agung kepada suarantb.com, Selasa, 22 November 2016.

Agung menduga, obat itu beredar luas di masyarakat, khususnya kalangan remaja. Sebab efeknya sama dengan Tramadol, menimbulkan efek  menenangkan, namun berbahaya jika dikonsumsi berlebihan. “Peredarannya sekarang sudah luas. Kami temukan di Mataram sampai Bima. Kita sedang lidik terus perkembangan obat ini,” terang Anak Agung Gede Agung.

Hasil penelusuran pihaknya, obat jenis Triphexyphenidyl ini diproduksi oleh PT. Holi Farma di Cimahi. Namun di lapangan, justru peredarannya tidak terkendali, bahkan ada beredar Triphexyphenidyl

yang palsu. Mantan Kasbudit III Tipikor Ditreskrimsus Polda NTB ini menunjukkan contoh obat palsu dan asli. Sangat serupa.

“Tapi yang asli bisa dibedakan dengan garis lis lebih biru. Yang palsu garis birunya lebih muda,” kata Agung.

Karena mulai menjadi tren seperti Tramadol, Triphexyphenidyl  jadi incaran para remaja. Harganya relatif mahal. Untuk yang asli Rp 30.000. Sementara untuk produk palsunya Rp 3.000. Sangat jauh selisihnya.

Tapi belakangan, harga yang palsu lebih mahal dari yang asli. “Karena banyak permintaan, harganya satu strip bisa mencapai Rp 50.000,” ungkapnya.

Anak Agung sebenarnya sudah menelusuri sampai pabriknya di Surabaya dan menemukan di PT. Holi Farma. Hanya saja pihak pabrik mengaku membatasi produk obat tersebut, karena masuk golongan obat keras dan memerlukan resep dokter sehingga hanya bisa dikonsumsi melalui prosedur pihak medis.  “Kami konfirmasi soal jenis obat palsu ini, malah pihak perusahaan menyarankan agar kami menelusuri pelaku pemalsuan,” terangnya.

Dugaan sementara, pemalsuan dilakukan oleh pihak tertentu, bisa home industri, bisa perorangan. “Kami sudah menemukan petunjuk dimana pembuatan obat palsu ini. Makanya kami sedang incar,” tandasnya. (szr)