Cerita Bocah SD Korban Keracunan Cilok di Mataram

Mataram (suarantb.com) – SDN 28 Mataram di Lingkungan Karang Anyar, Kelurahan Pagutan Timur, Kota Mataram, mendadak heboh. Pasalnya sebanyak 27 siswa mengalami keracunan cilok yang dibeli di sekitar lingkungan sekolah, Selasa, 25 Oktober 2016.

Kejadian terjadi sekitar pukul 11.00 Wita, ketika para siswa yang sedang dalam jam istirahat membeli cilok pada Saiful, seorang pedagang cilok yang sering berdagang di depan  sekolah. Secara bergerombolan siswa-siswa tersebut membeli dan memakan cilok tersebut.

Namun beberapa lama berselang, tiba-tiba puluhan siswa tersebut mengalami pusing dan sakit perut. Akibatnya beberapa siswa mengalami muntah-muntah di sekolah. Mengetahui kejadian tersebut, pihak sekolah kemudian bergegas membawa para korban ke Puskesmas Pagutan untuk diberikan pertolongan.

Salah seorang korban, Basman Asri (11) mengatakan ia mengkonsumsi cilok hanya sebagian. Ia terkejut ketika melihat beberapa rekannya mengalami sakit perut dan pusing setelah mengkonsumsi cilok. Akhirnya beberapa orang temannya memberitahukan guru terkait peristiwa tersebut.

1

Basman Asri (11), siswa kelas IV SDN 28 Mataram yang diduga keracunan setelah konsumsi cilok, Selasa, 25 Oktober 2016 (suarantb.com/szr)

“Saya makan (cilok) cuma setengah. Itu (saat itu) belum sakit perut saya. Saya tidak ikut ke puskesmas. Tapi setelah pulang baru ada rasa sakit perut dan pusing,” ujar siswa kelas IV SDN 28 Mataram ini.

Basman mengatakan, korban keracunan meliputi siswa kelas III, IV, V, dan VI. Sementara korban lainnya, Rizal Gibran (12) yang turut dibawa ke puskesmas mengatakan merasakan pusing dan sakit perut usai mengkonsumsi cilok.

“Terus saya dibawa ke puskesmas, dikasi obat di sana. Saya rasakan pusing, mual, sama sakit perut aja,” ujar siswa kelas VI  ini.

Kasat Reskrim Polres Mataram, AKP Haris Dinzah, SIK mengatakan mendapatkan informasi terkait kasus tersebut. Sehingga pihak kepolisian bergegas melihat kondisi korban dan melakukan pemeriksaan terhadap pedagang cilok, serta mengamankan sisa cilok tersebut.

“Setelah kita lakukan penyelidikan, indikasinya mereka habis makan cilok. Selang waktu sejam mereka merasa pusing-pusing,” ujarnya.

“Kita akan melakukan koordinasi dengan ahli maupun Balai POM, terkandung apakah makanan ini sehingga membuat adik-adik kita mengalami keracunan atau pusing-pusing,” sambungnya.

Kejadian tersebut menjadi pelajaran bagi semua pihak khususnya orang tua untuk selalu mengawasi makanan yang dikonsumsi buah hatinya. Pihak sekolah juga harus betul-betul teliti dalam mengawasi siswa-siswanya mengkonsumsi makanan yang dibeli dari luar sekolah. Karena, saat waktu sekolah, tanggungjawab mengawasi siswa ada pada pihak sekolah. (szr)