Nelayan Ditangkap, Bos Besar Penyelundupan Bibit Lobster Belum Tersentuh

Mataram (suarantb.com) – Maraknya upaya penyelundupan bibit lobster di NTB, menandakan lemahnya pengawasan terhadap komoditi yang dilindungi ini. Seperti menjaring ratusan ikan, namun hanya beberapa ekor yang tertangkap. Begitu juga jika diibaratkan dengan penangkapan penyelundup bibit lobster.

Upaya Aparat Penegak Hukum (APH) dan instansi terkait dalam memutus mata rantai penyelundupan bibit lobster, belum dapat dikatakan berhasil. Pasalnya, hanya kurir kelas teri yang berhasil ditangkap, yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan. Namun jaringan besar penyelundupan bibit lobster jauh panggang daripada api. Mereka belum tersentuh.

Beragam modus digunakan dalam upaya penyelundupan lobster, namun seringkali berhasil digagalkan aparat. Hanya saja, penangkapan tersebut ibarat menyapu di tengah badai. Selalu muncul modus-modus baru. Itu semua disebabkan jaringan besar penyelundupan bibit lobster hingga kini belum terungkap.

Kepala Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan (Balai KIPM) Kelas II Mataram, Muhlin, mengatakan jaringan besar penyelundup bibit lobster telah dikantongi. Hanya saja belum dapat membuktikan keterlibatan jaringan besar tersebut.

“Jaringan atau peta para pelaku ini memang kami sudah mengantongi itu. Cuma kan tidak bisa langsung menangkap orang kalau tidak ada barang bukti. Sebenarnya dari intelijen maupun informan kami, jaringan itu kita sudah tahu. Cuma barang bukti saja yang belum,” ujarnya saat ditemui di LIA, Selasa, 11 Oktober 2016.

Menurutnya, kurir yang tertangkap memiliki komitmen yang kuat untuk tidak membuka jaringan penyelundupan lobster tersebut. Sehingga menyebabkan proses pengembangan jaringan menjadi terputus.

“Tapi kadang kala ada komitmen dari para kurir yang tertangkap, untuk tidak membuka jaringannya. Jadi terputus. Dari Polda NTB, dari Ditreskrimsus sudah dikembangkan. Kami sudah punya gambaran petanya,” bebernya.

Tidak tanggung-tanggung, jalur atau rute upaya penyelundupan bibit lobster melalui bandara, yang dikenal dengan prioritas keamanan ekstra ketat. Tercatat, sejak diberlakukannya Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen KP) nomor 1 tahun 2015 tentang penangkapan lobster, kepiting dan rajungan, sebanyak 7 kali upaya penyelundupan melalui LIA digagalkan.

Harga yang cukup menggiurkan membuat para kurir berani untuk melakukan upaya penyelundupan. Bibit lobster jenis pasir dihargai Rp 10 ribu hingga 40 ribu, sementara untuk bibit lobster jenis mutiara sekitar Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu.

Menurut Muhlin, jalur penyelundupan sering melalui Lombok menuju Surabaya. Kemudian akan diteruskan menuju Batam. Dari Batam akan dibawa ke Singapura, dan puncaknya menuju Vietnam. Hal ini menjadi PR bagi APH dan instansi terkait untuk betul-betul menuntaskan permasalahan tersebut, tidak hanya mampu menangkap kurir kelas teri yang notabenenya adalah nelayan. (szr)