Polres Loteng Gandeng LPA Tangani Kasus Dugaan Pencabulan Anak

Praya (suarantb.com) – Kasus dugaan pencabulan anak  berinisial N berusia empat tahun terus diproses Kepolisian Resort (Polres) Lombok Tengah (Loteng). Pagi tadi, Polres Loteng kembali memeriksa orangtua korban dan juga orang tua pelaku. Dalam menangani kasus ini, Polres Loteng menggandeng Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Loteng.

Pantauan suarantb.com, korban bersama orangtuanya didampingi  LPA Loteng  hadir dalam pemeriksaan. Sementara Suhardi, orangtua pelaku berinisial J juga turut diperiksa Kepolisian. Kasat Reskrim Polres Loteng, AKP Arjuna Wijaya S.I.K mengatakan pihak Kepolisian telah berkoordinasi dengan LPA  dalam menangani kasus tersebut.

“Ini pelakunya adalah anak, sehingga kami berkoordinasi dengan LPA dalam menangani kasus ini. Kami harus berhati-hati dalam menangani kasus tersebut, karena korban maupun pelakunya adalah anak,” ujar Arjuna, Jumat 22 Juli 2016.

Selain berkoordinasi dengan LPA, Polres Loteng juga telah berkoordinasi dengan Dinas Sosial. Polres Loteng juga berencana akan berkoordinasi dengan Balai Pemasyarakatan (Bapas). “Kami telah berkoordinasi juga dengan Dinas Sosial, dan ke depannya akan berkoordinasi dengan Bapas,” tambahnya.

Diketahui, kasus tersebut terjadi pada hari Minggu, 3 Juli 2016 lalu. Bermula ketika korban bermain bersama enam temannya yang masih berusia 2-5 tahun. Beberapa saat kemudian pelaku mengajak korban bermain di mushala dekat rumah pelaku. Karena kondisi yang sepi, pelaku diduga mencabuli korban.

Salah seorang saksi kemudian keluar memanggil saksi lainnya. Saksi kemudian membawa ponsel lantas merekam aksi pencabulan tersebut. Sehari kemudian video pencabulan tersebut beredar luas ke masyarakat, sehingga orangtua korban melapor ke Kepolisian.

Terkait langkah ke depan dalam menangani kasus tersebut, menurut Arjuna Pihak Kepolisian masih akan melakukan pendalaman saksi-saksi dan pengumpulan bukti-bukti. Sementara dalam menyelesaikan kasus tersebut, menurut Arjuna sesuai dengan undang-undang nomor 11 tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA).  Pelaku anak yang ancaman hukumannya kurang dari tujuh tahun dapat didiversi (pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana).

“Dalam undang-undang SPPA, pelaku anak yang ancaman hukumannya kurang dari tujuh tahun bisa didiversi. Jadi kita lihat dulu kasus ini, kita pelajari dulu. Untuk kasusnya tetap berjalan, cuma nanti untuk akhirnya seperti apa kasus ini, kami kordinasi dengan pihak Bapas, LPA, dan Dinas Sosial,” jelasnya.

Dalam setiap kali pemeriksaan, Unit PPA Polres Loteng tetap mengimbau agar orangtua lebih memberikan pembinaan dan pengawasan terhadap anaknya agar tidak terjadi kasus-kasus seperti yang sedang terjadi saat ini. “Kami tetap mengimbau, sosialisasi juga tetap, setiap orangtuanya ke sini kami tetap memberikan himbauan untuk memberikan pembinaan dan pengawasan terhadap anaknya,” tambahnya. (szr)