HANI 2016

Jangan Berikan Ruang Bandar Narkoba di NTB

Mataram (suarantb.com)

Puncak peringatan Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) tahun 2016 masih diselimuti kekhawatiran, karena peredaran gelap narkoba menyasar semua lapisan masyarakat. Karena sasaran narkoba kompleks, maka pencegahannya pun harus melibatkan semua pihak. Sampai pada akhirnya masyarakat kompak untuk tidak memberi ruang peredaran gelap narkoba di NTB.

Pesan khusus itu disampaikan Wakil Gubernur NTB, Drs. H. Muh. Amin, M.Si usai menghadiri puncak peringatan HANI di tugu Bumi Gora Jalan Udayana Mataram, Minggu (26/6), digagas Badan Narkotika Nasional (BNN) NTB. Pesan sama disampaikan Kapolda NTB Brigjen Pol. Drs. Umar Septono, M.Si, Kepala BNN NTB, Drs. Sriyanto, M.Si, dan Danrem 162/WB Kolonel Farid Makruf, MA.

Narkoba kini bukan saja tanggungjawab  BNN dan aparat lainnya, tapi harus ada rasa tanggungjawab sama untuk menanggulangangi, merehabilitasi pengguna narkoba.  “Sebab trennya semakin meningkat,” Wagub mengingatkan.

Secara tegas diingatkannya, agar tidak memberi ruang sedikitpun kepada penyalahguna narkoba. Karena Wagub sendiri melihat ada kecenderungan acuh dari masyarakat. Mereka tidak mau repot, apalagi berisiko, bahkan akan ada ancaman dari mereka yang terlibat. “Tapi kalau semuanya kompak, bersinergi bersama. Semua segmen terlibat dari sisi umur, kita perangi narkoba. Kita bangkitkan semangat melawan pengedarnya,” tegas Wagub.

Tidak lupa diingatkannya, terkait temuan BNN NTB sebelumnya, ada 19 PNS di lingkup Pemprov NTB yang positif narkoba,  dari total 27 instansi yang dilakukan tes urine. Terhadap PNS yang menyalahgunakan narkoba itu dipastikannya tidak ada tolerir. “Namun demikian, kita tetap masukkan ke proses rehabilitasi, sekaligus juga diberikan sanksi kepegawaiannya,” sebut Ketua DPD Partai Nasdem NTB ini. Jajarannya harus bersih, karena aparatur menjadi contoh atau tauladan masyarakat luas.

Baca juga:  Meriahkan HANI, BNN Gelar Baksos Donor Darah di Lobar

 

BNN Sinergi TNI – Polri

Sementara Kepala BNN NTB Drs. Sriyanto, M.Si mengamini kekhawatiran Wagub tersebut. Sehingga salah satu cara paling efektif selain pencegahan adalah melakukan penindakan. Dia mengaku sudah bicara dengan jajaran TNI dan Polri, untuk dilakukan operasi bersama. “Dengan TNI, Angkatan Laut, Udara dan Darat, juga dengan Polda NTB, kami sudah sepakat kapan akan operasi bersama. Ini bentuk sinergitas,” sebut Sriyanto.

Sehingga jika dilakukan operasi terus menerus, sebagaimana tahun 2015 lalu, efektif mempersempit ruang gerak pengedar narkoba, termasuk para pengguna. ”Apalagi peredaran (Narkoba) di NTB masih cukup tinggi. Tempat tempat peredarannya masih di seputar tempat hiburan, tempat kos, ini yang akan kita sasar,” ungkapnya. Namun kendala masih soal anggaran. Atas kebutuhan itu, pihaknya bersama jajaran TNI dan Polri sudah mendapat kesiapan dukungan anggaran dari Pemprov NTB.

Sementara Kapolda NTB Brigjen Pol. Drs. Umar Septono menekankan pembersihan di internalnya. “Polri harus dibersihkan ke dalam dulu, agar memberikan contoh teladan kepada masyarakat,” sebut Kapolda. Jika masih ada yang ditemukan anggota Polri pengguna narkoba, akan diberikan penindakan setimpal karena mencoreng institusi, bahkan pemecatan jika terlibat sebagai bandar.

Peredaran narkoba diakuinya sudah pada level internasional dan di Indonesia pada tingkatan darurat narkoba. Sehingga semua pihak harus terpanggil untuk pemberantasan dan pencegahan.

Baca juga:  Meriahkan HANI, BNN Gelar Baksos Donor Darah di Lobar

Peran selama ini, pihaknya dengan fungsi Ditresnarkoba dan Sat Narkoba di polres jajaran sudah berjalan baik dalam bentuk pengungkapan. Institusinya juga mendukung  BNN, salah satunya dengan support personel. Terkait kebutuhan personel di BNN Kabupaten Bima dan Kabupaten Sumbawa Barat, diakuinya masih harus ada proses pembicaraan lebih teknis lagi. “Sebab kami juga masih kekurangan personel. Tapi akan tetap kita seleksikan mana yang baik,” tandasnya.

 

Sementara Danrem 162/WB Kolonel Inf. Farid Makruf, MA, di korpsnya tidak kalah maksimal memerangi narkoba. Pembersihan di internal juga sedang dilakukan. “Kalau ada anggota saya yang positif narkoba, pecat. Tidak ada ampun. Wartawan bisa catat ini,” tegasnya.

Memerangi narkoba pada konteks luas diakuinya perlu partisipasi masyarakat. Tapi sangat percuma menurutnya jika masyarakat tidak mendukung. “Masyarakat harus ringankan langkah untuk melapor. Kalau ada itu terlibat narkoba, kita tangkap. Di lingkungan RT dan lain lain. Kita berharap peran seluruh masyarakat ini,” harapnya.

Ada kendala lain bahwa peredaran narkoba masih ada indikasi narkoba di kendalikan para pelaku yang sedang menjalani proses hukum dan pidana. Ini menurutnya menjadi persoalan lain, ketika peran aktif masyarakat untuk memerangi sudah diaktualisasikan. Menjadi pekerjaan berat ketika para bandar menggunakan jalur lain mengedarkan narkoba berbagai jenis. Atas dasar itu, pihaknya berharap sinergitas pemberantasan narkoba itu benar – benar dilakukan semua pihak. (ars/*)