Hujan Lebat, Jembatan Penghubung Selengen – Gumantar Putus

Beginilah kondisi jembatan penghubung Desa Selengan dan Desa Gumantar yang putus akibat hujan deras sejak Rabu, 19 Februari 2020. (Suara NTB/ist)

Tanjung (Suara NTB) – Jembatan penghubung Desa Selengen dan Desa Gumantar Kecamatan Kayangan, putus Kamis, 20 Februari 2020. Jembatan di bagian hulu Kali Selengen itu, amblas Kamis dini hari akibat diguyur hujan lebat sejak Rabu.

Tokoh masyarakat sekaligus mantan Kepala Dusun Tangga, Puji Hartono, mengatakan jembatan tersebut ditemukan warga dalam kondisi putus, pada Kamis pagi. Warga pun tak bisa melewati jembatan itu. Untuk mengakses desa sebelah, warga harus mengambil jalan memutar melalui jalan nasional di Dusun Tampes – Dusun Mbar-Mbar, kemudian ke Boyotan.

Iklan

Fisik jembatan utama terlihat masih kokoh berdiri. Namun kasusnya jembatan ini hampir sama dengan jembatan Tampes. Di mana jalan di ujung jembatan amblas akibat terjangan air kali yang sangat deras.

“Perkiraan putusnya tengah malam, sebab intensitas hujan di wilayah Desa Selengen dan Gumantar itu sejak Rabu sore hingga Kamis pagi,” ujar Luji.

Dikatakannya, jembatan tersebut memiliki panjang 20 meter dengan lebar 4 meter. Dibangun pada 2014 senilai Rp 1,5 miliar melalui program MP3KI – PNPM.

Pihak Pemdes Selengen dan Gumantar, kata dia, tidak mengetahui kronologi pembangunan jembatan tersebut. Namun diyakininya, dalam proses pengerjaannya tidak melibatkan asistensi Dinas PUPR KLU.

“Pemdes Selengen tidak tahu apa-apa. Tidak ada yang membantu kami saat pembuatan jembatan itu, justru Kades Gumantar yang lebih aktif,” sambungnya.

Saat ini, warga berharap bahtuan Pemkab Lombok Utara agar membantu menghubungkan kembali akses kedua desa. Menyadari mekanisme anggaran, warga Selengen berharap intervensi perbaikan jalan sementara.

Pasalnya, seminggu sebelum amblas, warga setempat sudah bergotong royong menyambungkan ujung jembatan yang putus menggunakan bambu. Warga sampai mengeluarkan dana swadaya untuk membeli dan mengangkut bambu. Kini, bambung penghubung itu ikut hanyut terbawa arus sungai.

Terpisah, Kepala Dinas PUPR KLU, Kahar Rizal, ST., melalui Kepala Seksi Jalan dan Jembatan, Bambang Gunawan, ST., mengakui jembatan tersebut pernah ditangani oleh dinas. Hanya saja, jembatan kembali rusak akibat volume debit air melebihi kapasitas daya tampung air, sehingga air di sungai itu melewati jembatan.

“Maka solusinya nanti dibuatkan jembatan baru dengan trase jalan yang diubah, karena kalau diperbaiki (jembatan eksisting) pasti rusak lagi,” sebutnya.

Pihaknya belum bisa menaksir perkiraan biaya jembatan baru. Untuk mengetahui itu, dinas perlu melakukan perencanaan dan membuat desain. “Saya dengar, TAPD sudah merencanakan anggaran di Perubahan 2020,” imbuhnya.

Terpisah, Kepala Bappeda KLU, Heryanto, SP., mengakui adanya dukungan anggaran untuk jembatan tersebut. Namun alokasinya bukan di APBDP-2020. “Penganggaran itu di 2021, di anggaran perubahan tidak memungkinkan karena waktu mepet. Di APBD-P 2020, perencanaannya harus sudah selesai,” sebut Hery sembari mendorong perbaikan sementara. (ari)