Hotel Masih Berjuang Keras Hadapi Pandemi

0
Situasi di halaman parkir salah satu hotel di Mataram, Selasa, 22 Juni 2021. Hotel di Mataram bertahan di tengah pandemi Covid-19 dengan bergantung pada kegiatan-kegiatan MICE, baik dari pemerintah, lembaga, maupun perusahaan.(Suara NTB/bay)

Mataram (Suara NTB) – Perpanjangan PPKM mikro untuk seluruh daerah di Indonesia dikhawatirkan memberi dampak pada penurunan aktivitas ekonomi. Salah satunya yang paling dikhawatirkan adalah pergerakan perhotelan yang baru saja menunjukkan pergerakan setelah terdampak pandemi lebih dari satu tahun.

Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Mataram, H. Nizar Denny Cahyadi menyebut okupansi hotel di Kota Mataram saat ini tercatat antara 25-35 persen. “Mudah-mudahan ini tidak terpengaruh (masuknya) varian baru virus dan kondisi di kota besar seperti Jakarta, Jawa Timur, dan lain-lain yang kembali naik,” ujarnya, Selasa, 22 Juni 2021.

IKLAN

Diterangkan, hotel di Kota Mataram memang bertahan dengan menggarap pasar domestik. Terutama dari kegiatan MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) dari lembaga, perusahaan, dan pemerintahan.

“Kegiatan-kegiatan MICE itu yang membuat kondisi tahun ini lebih baik dari tahun lalu. Karena itu kita berharap tidak ada gejala (peningkatan kasus) yang signifikan, sehingga semua harus dibatasi lagi dan pergerakan hotel ini kembali menurun,” jelasnya.

Kendati menjadi penyumbang terbesar untuk pendapatan asli daerah (PAD), kondisi hotel selama pandemi Covid-19 memang sangat memprihatinkan. Terutama dengan minimnya tamu yang menginap dan melakukan kegiatan akibat pembatasan yang diberlakukan oleh pemerintah.

Ketua Asosiasi Hotel Mataram, Yono Sulistyo menyebut setelah terdampak pandemi sejak 2020 lalu, pergerakan hotel memang baru terlihat pada Juni 2021. “Ada kenaikan okupansi karena banyak kunjungan bisnis, pertemuan, dan lain sebagainya sehingga bisa naik mencapai 60 persen,” jelasnya, Selasa, 22 Juni 2021.

Dengan perpanjangan PPKM mikro yang diberlakukan diakuinya kembali mengurangi pergerakan hotel tersebut. Dicontohkan seperti aturan pelarangan mudik beberapa waktu lalu yang menurunkan okupansi hotel hingga rata-rata 36 persen.

“Sekarang (dengan perpanjangan PPKM mikro) ada beberapa kegiatan dari pusat yang diundur. Itu disampaikan beberapa anggota kami di AHM,” ujarnya. Dengan kondisi tersebut, satu-satunya pasar yang dapat digarap adalah wisatawan lokal asal NTB.

Kendati demikian, untuk pasar lokal diakuinya lebih memilih melakukan kegiatan di area resort yang berada di sekitar pesisir. Sehingga hotel-hotel di tengah kota seperti di Kota Mataram harus berusaha lebih keras untuk bisa bertahan.

“Sekarang ini kita bergantung pada kegiatan-kegiatan rapat lingkup pemerintah, semisal dari provinsi masih ada yang melakukan itu di hotel-hotel di Kota Mataram,” tandas Yono. (bay)