Hotel di Mataram Mulai Terisi

Tamu salah satu hotel di Mataram tengah melakukan reservasi, Kamis, 26 Agustus 2021. Sejak PPKM turun level menjadi level tiga, okupansi hotel di Kota Mataram dilaporkan meningkat hingga pada posisi rata-rata 50 persen.(Suara NTB/bay)

Mataram (Suara NTB) – Okupansi atau tingkat hunian kamar hotel di Kota Mataram mengalami kenaikan hingga 50 persen. Turunnya level pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) dari level empat menjadi level tiga menjadi angin segar bagi geliat sektor perhotelan tersebut.

Ketua Asosiasi Hotel Mataram (AHM), Yono Sulistyo menyebut peningkatan okupansi terjadi beberapa waktu setelah level PPKM Kota Mataram diturunkan. Menurutnya selama PPKM level empat diterapkan salah satu aturan yang memberatkan adalah kewajiban tamu menunjukkan sertifikat vaksin minimal satu kali dan hasil PCR negatif sesuai surat edaran Walikota Mataram.

Iklan

Sejak PPKM level empat berubah menjadi PPKM level tiga, aturan tersebut dilonggarkan setelah melalui diskusi dengan Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Mataram. “Dinas sudah menghubungi kami, dan syarat menginap di hotel sudah agak gampang. Sekarang rapid antigen dan vaksin saja. Ini cukup membantu juga, karena memang trendnya naik,” ujar Yono saat dihubungi, Kamis, 26 Agustus 2021.

Berdasarkan catatan pihaknya, selama PPKM level empat diterapkan terjadi penurunan 20-15 persen dibanding okupansi pada Juni 2021 yang bisa mencapai 60 persen. “Agustus ini rata-rata 50 persen. Belum bisa menyamai okupansi saat Juni kemarin, tapi mulai ada peningkatan,” jelasnya.

Menurutnya, dalam posisi saat ini okupansi 50 persen setidaknya bisa memberikan keuntungan pada pengelola hotel. Sedangkan okupansi 40-45 persen yang terjadi selama penerapan PPKM level empat terbilang memberatkan, karena keuntungan yang didapat hanya cukup untuk membayar upah karyawan dan memenuhi biaya operasional.

“Kalau sekarang tamu domestik sudah ada, tapi yang mancanegara belum ada. Yang domestik itu ada dari kota-kota besar seperti Surabaya dan Jakarta. Mereka hanya menginap untuk kunjungan bisnis dan pemerintahan,” ujar Yono.

Kepala Dispar Kota Mataram, H. Nizar Denny Cahyadi menyebut peningkatan okupansi utamanya terjadi di hotel-hotel berbintang yang ada. Dari survei yang dilakukan di beberapa hotel, peningkatan tersebut antara lain mencapai 40 persen dari okupansi rata-rata selama PPKM level empat yang bisa mencapai 10-15 persen.

“Kalau hotel melati belum ada peningkatan. Dari beberapa hotel yang kita survei, segitu okupansinya. Mungkin ini dampak dari PPKM yang turun level ini, sehingga PCR tidak lagi diwajibkan dan kegiatan-kegiatan di hotel sudah mulai lagi,” ungkapnya.

Diterangkan, tamu yang datang menginap didominasi oleh pelaku perjalanan bisnis dan wisatawan lokal. Untuk mendorong okupasi semakin membaik, pihaknya telah menyiapkan beberapa materi promosi. Salah satunya untuk wisata medis di tengah pandemi Covid-19 yang dikerjasamakan dengan RSUD Kota Mataram.

“Jadi kita buat bahan promosinya. Kami menjamin kesehatan dari wisatawan yang datang ke Mataram dengan bekerjasama dengan rumah sakit. Jadi siapapun yang sakit di hotel itu kami jemput,” tanda Denny. (bay)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional