Honor Korban Kecelakaan Personel BPBD Lotim Sepuluh Bulan Belum Terbayar

Wabup Lotim, H. Rumaksi Sjamsuddin saat melihat jenazah Almarhum Lalu Bambang Budianto di rumah duka di Kelurahan Tanjung, Kecamatan Labuhan Haji, Kamis, 7 Januari 2020.(Suara NTB/yon)

Selong (Suara NTB) – Insiden kecelakaan maut yang dialami personel Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lotim menyita keprihatinan semua pihak. Terutama keluarga besar Pemda Lotim, mengingat personel kecelakaan dalam menjalankan pengabdiannya kepada masyarakat. Ironisnya, honorer di BPBD Lotim sekitar 10 bulan tidak pernah menerima gaji. Salah satunya korban meninggal, atas nama Lalu Bambang Budianto.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik pada BPBD Lotim, Iwan Setiawan, pada Kamis, 7 Januari 2020, menyebutkan, jumlah personel TRC-PB yang dimiliki BPBD Lotim pada awalnya sebanyak 250 orang. Namun dengan hadirnya Dinas Pemadam Kebakaran dan Keselamatan Kerja, maka dilakukan pembagian personel sebanyak 50 persen. Statusnya sebagian besar honorer, tapi mendapat gaji dari pemerintah dan honor kegiatan. Besaran honorer sesuai Perbup yaitu masa kerja 1-5 tahun Rp500 ribu, masa kerja 6-10 tahun sebesar Rp750 ribu dan masa kerja di atas 10 tahun mendapat honor pokok sebesar, Rp1 juta lebih.

Khusus untuk Lalu Bambang, honor selama 10 bulan ini belum keluar. Honornya direncanakan keluar pada 11 Januari 2021 karena masuk menjadi honorer di BPBD Lotim pada bulan Maret 2020. Sejak awal masuk, Lalu Bambang tidak pernah mendapat gaji dan direncanakan dirapel di tahun 2021 ini.

Bahkan ia diketahui tengah mengurus peminjamannya di salah satu badan usaha untuk kepentingan istrinya. Langkah ini dilakukan karena tanggal 11 Januari 2021 gaji yang dirapel selama 10 bulan akan dicairkan dari BPBD dengan besaran, Rp500 ribu perbulan. Namun nahas, Lalu Bambang terlebih dahulu dipanggil sang khalik sebelum menikmati hasil keringatnya selamat bekerja di BPBD Lotim.

Iwan juga tidak menampik belum terbayarkannya honor almarhum Bambang sepuluh bulan terakhir ini. Ditegaskannya, jika pihaknya sudah mengurus asuransi dari Jasa Raharja terhadap para korban. Termasuk persiapan pemberian penghargaan dari Pemda Lotim akan diberikan karena meninggal dalam menjalankan tugas. Apalagi SK tanggap darurat bencana belum dicabut bahkan diperpanjang hingga bulan April 2021.

Atas peristiwa ini, Iwan berharap tidak mematahkan semangat personel BPBD Lotim dalam membantu masyarakat yang terdampak bencana. Terlebih dengan semakin banyak bencana, semakin banyak personel yang dibutuhkan. “Saya berharap kita tetap semangat menjadi garda terdepan membantu masyarakat yang terkena musibah,” pesannya.

Iwan juga menegaskan bahwa pada tahun 2020 ini disampaikan supaya personel BPBD dan Dinas Pemadam Kebakaran masuk BPJamsostek dan direncanakan terealisasi pada tahun 2021. Hal ini karena petugas dari BPBD memiliki risiko cukup besar terkait keselamatan kerja.

Sementara, Wakil Bupati Lotim, H. Rumaksi Sjamsuddin, SH., hadir di rumah duka Lalu Bambang Budianto di Kelurahan Tanjung, Kecamatan Labuhan Haji. Pada kesempatan, Wabup turut berduka cita atas kepergian dua orang personel TRC-PB BPBD Lotim dalam insiden kecelakaan saat menjalankan tugas yang cukup mulia, Rabu 6 Januari 2021.

“Pemda Lotim merasa sangat kehilangan. Personel di BPBD Lotim tidaklah memiliki kemampuan sembarangan,” katanya.

Atas insiden ini, orang nomor dua di Gumi Selaparang ini meminta supaya kejadian kecelakaan ini harus dijadikan bahan evaluasi sekaligus PR bagi pemerintah daerah. Pasalnya, honorer yang memiliki risiko kerja cukup tinggi belum terakomodir secara menyeluruh dalam BPJamsostek, termasuk armada mobil yang digunakan harus terstandar.

“Belum semua pegawai petugas di BPBD Lotim masuk dalam kepesertaan BPJamsostek. Sehingga ke depan akan dimasukkan, begitupun untuk Damkar. Untuk armada yang digunakan juga masih tua-tua. Untuk itu pengadaan dan penggantian kita lakukan,” terangnya.

Wabup juga mengingatkan kepada personel BPBD yang lain untuk senantiasa menggunakan atribut kebencanaan yang sudah disediakan. Atribut-atribut yang dipersiapkan itu seyogyanya dihajatkan untuk pelindung keselamatan mengingat personel di BPBD merupakan orang terdepan saat terjadi suatu bencana.

“Semoga ke depan lebih disiplin dalam menangani tugas. Harus memakai atribut kebencanaan,” pungkasnya. (yon)