Hiu di Tanjung Luar Bukan Jenis Terlarang

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB, L. Hamdi (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB memastikan jenis hiu yang mendarat di Pelabuhan Tanjung Luar, Lombok Timur adalah jenis hiu yang tidak dilarang oleh undang-undang. Bahkan secara ekonomis, dapat diperjualbelikan.

Hal ini ditegaskan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB, Ir. Lalu. Hamdi, M.Si, menyusul adanya sorotan dari penyayang binatang internasional atas aktivitas penangkapan dan jual beli hiu yang ada di Tanjung Luar.

Iklan

“Yang dilarang itu hiu paus dan parimanta. Tidak ada tertangkap oleh nelayan,” jelas L. Hamdi.

Kepada Suara NTB di Mataram, Rabu, 6 Februari 2019 kemarin, Hamdi menjelaskan, hiu di Tanjung Luar umumnya tidak dilarang. Tetapi, tidak diperbolehkan diperjualbelikan ke luar negeri.  Hanya boleh dijual di dalam negeri. Belum ada hasil tangkapan hiu yang dilarang oleh hukum internasional. Sehingga, tak masalah kata kepala dinas.

Hiu adalah jenis ikan yang secara ekonomis mendatangkan keuntungan besar bagi nelayan dan pengusaha. Alasannya, hiu termasuk jenis ikan zero waste (bebas sampah). Seluruh organnya dapat dijual. Dari tulang, gigi, sirip, kulit, hingga darahnya. Nyaris tak ada yang terbuang.

Dinas Kelautan dan Perikanan juga menurutnya melakukan antisipasi. Sosialiasai-sosialisasi juga intens dilakukan kepada nelayan tentang jenis-jenis hiu yang boleh dan tidak boleh ditangkap. Nelayan juga telah memahami itu katanya.

Hasil tangkapan hiu di NTB, dari tahun ke tahun trennya berkurang. Rata-rata tahun 2014, 2015 dan 2016 sebanyak 6 ribuan ton, 5 ribuan ton dan 8 ribuan ton. Penangkapan hiu ini menurutnya cukup banyak membantu ekonomi masyarakat pesisir. Bahkan para pemindang ikan yang notabenenya jauh dari pesisir Tanjung Luar.

Meski demikian, pemerintah sedang mencoba mencarikan alternatif bagi usaha-usaha nelayan lainnya. Misalnya untuk nelayan di Tanjung Luar, akan dikembangkan usaha kombinasi antara usaha nelayan dan pariwisata.

“Kapal-kapal mereka kita akan arahkan untuk jemput tamu dari satu tempat wisata ke tempat lain sebagai alternatifnya. Apalagi pemerintah akan membuatkan kuota penangkapan bagi nelayan,” katanya.

Selain itu, untuk mengurangi penangkapan hiu, rencananya akan diperbanyak rumpon bagi nelayan untuk penangkapan dengan jarak yang tak terlalu jauh. Lebih efektif, dan lebih produktif hanya dengan menangkap di daerah-daerah dekat dengan pantai.

Tanjung Luar menjadi daerah pendaratan ikan hiu lantaran berhadapan langsung dengan laut lepas yang menjadi jalur lalu lalang ikan-ikan pelagis besar.  Dengan ketersediaan sumber makanan yang melimpah bagi ikan-ikan besar. Tak ada larangan bagi nelayan melakukan penangkapan. Selama hasil tangkapannya bukan jenisnya yang tidak diperbolehkan. (bul)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here