Hipmi Ajak Masyarakat Realistis

H. Ricky Hartono.(Suara NTB/dok)

HIMPUNAN Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) mengajak masyarakat lebih realistis menempatkan dananya. Menyusul maraknya penghimpunan dana masyarakat secara berantai dengan menjanjikan keuntungan besar. HIPO diketahui adalah Ormas yang belakangan mengajak masyarakat berdonasi. Dengan menjanjikan keuntungan harian, atau yang disebut sebagai reward.

Saat ini menjadi atensi aparat penegak hukum. Ada juga kegiatan penghimpunan dana untuk kegiatan usaha tertentu, misalnya usaha kuliner. Juga menjanjikan keuntungan di atas kewajaran. Polanya juga berantai atau sistem Multi Level Marketing (MLM)/saling mengajak. Ketua Hipmi Kota Mataram, H. Ricky Hartono turut mengingatkan melihat maraknya fenomena berinvestasi secara berantai ini akikat kecenderungan masyarakat yang ingin mendapatkan keuntungan dengan serta instan.

Iklan

Pengusaha muda ini juga mengaku khawatir atas fenomena ini. Penghimpunan dana yang dilakukan secara berantai, biasanya tak berlangsung lama. Dan hanya memberi keuntungan kepada tangan-tangan pertama yang nantinya akan bekerja sekaligus memberi testimoni untuk meyakinkan masyarakat lainnya. “Begitu seterunya, sampai akan membentuk pola gulungan besar. Modelnya uang yang masuk diputar terus menerus kepada yang lain. Risikonya adalah yang diakhir-akhir. Kalau sudah gulungan besar, dan macet, akan banyak korban. Sebetulnya harus waspada kalau mau menempatkan dana,” katanya.

Lebih baik menurutnya realistis menjadi pengusaha. Masih banyak peluang usaha yang bisa dikembangkan dan risiko bisa diminimalisir. Tawaran investasi, atau bentuknya memberikan sumbangan kepada organisasi, seperti yang dilakukan HIPO, menurutnya masyarakat harusnya bisa memastikan. Siapa yang memutar uangnya, ke mana uangnya diputar, berapa besar keuntungan yang didapat, kemudian bagi hasilnya seperti apa.

“Kalau sudah menjanjikan keuntungan besar, sampai 20 persen lebih, hati-hati saja. karena di bank saja, deposito hanya memberikan keuntungan 6 persen. Ada yang bilang donasi (sumbangan), tapi kok memberikan keuntungan, kalau sumbangan ya habis langsung ,” katanya kembali mengingatkan. Atas fenomena maraknya penghimpunan dana, dari yang berkedok donasi, sampai yang berkedok investasi, kata H. Ricky, semua harus bergandengan tangan. Dari Aparat penegak hukum, otoritas terkait misalnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan stakeholdersnya untuk mengingatkan masyarakat agar berinvestasi lebih realitis. (bul)