Hipertensi dan Diabetes Masuk 10 Besar Penyakit Tertinggi di NTB

H. Lalu Hamzi Fikri (Suara NTB/nas)

DINAS Kesehatan (Dikes) NTB mengungkapkan data yang cukup mengagetkan. Penyakit tidak menular, kini mendominasi 10 besar penyakit tertinggi di NTB.

Meningkatnya tren kasus tidak menular seperti hipertensi dan diabetes melitus diduga akibat gaya hidup tidak sehat. Dulu, penyakit menular mendominasi 10 besar penyakit tertinggi di NTB.

Iklan

“Dulu dominan penyakit menular di NTB. Sekarang, penyakit tidak menular mendominasi seperti stroke atau darah tinggi dan diabetes melitus di posisi 10 besar penyakit tertinggi di NTB,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) NTB, dr. H. Lalu Hamzi Fikri, M.M., MARS., dikonfirmasi di Mataram, Sabtu, 9 Oktober 2021.

Berdasarkan data Dikes Kabupaten/Kota yang diperoleh Pemprov NTB pada tahun 2020, kasus hipertensi atau penyakit darah tinggi menduduki posisi pertama dengan jumlah 124.966 kasus. Kemudian disusul infeksi akut pada saluran pernapasan bagian atas 88.319 kasus.

Selanjutnya, infeksi pada saluran pernapasan bagian atas atau ISPA sebanyak 80.100 kasus, gastritis 51.482 kasus, diabetes melitus 47.023 kasus, observasi febris 42.848 kasus, myalgia 41.677 kasus, dispepsia 41.348 kasus, common cold 38.802 kasus dan nasofaring akut 29.006 kasus.

“Ini karena pergeseran pola hidup, gaya hidup,” terang Fikri.

Pada tahun 2019, penyakit tidak menular juga mendominasi 10 besar penyakit tertinggi di NTB. Penyakit infeksi akut pada saluran pernapasan bagian atas paling tinggi dengan jumlah 174.213 kasus.

Kemudian disusul penyakit hipertensi 108.127 kasus, gastritis 55.956 kasus, ISPA 51.604 kasus, diare 48.205 kasus, diabetes melitus 41.841 kasus, common cold 40.790 kasus, myalgia 30.178 kasus, dispepsia 29.414 kasus dan rematik 26.380 kasus.

Fikri mengatakan lewat posyandu keluarga, penyakit menular dan penyakit tidak menular akan terdeteksi lebih awal. Pasalnya, posyandu keluarga bukan hanya melayani ibu hamil dan bayi. Tetapi juga memberikan layanan kepada remaja dan lansia.

‘’Sekarang kami mengarahkan program Dikes, bisa menggunakan posyandu keluarga untuk masuk untuk mendeteksi penyakit menular dan tidak menular yang ada di masyarakat,’’ tandasnya. (nas)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional