Hindari Saber Pungli, Pengelola Lepas Tangan

Mataram (Suara NTB) – Pengelolaan sampah di berbagai destinasi wisata dilakukan dengan cara yang beragam. Sebagian melibatkan pemda setempat, sebagian lagi melakukan pengelolaan secara mandiri bersama pihak ketiga. Namun belakangan terjadi perubahan tentang cara pengelolaan sampah. Pengelola tidak lagi mau menggunakan pihak ketiga untuk mengatasi persoalan sampah di sekitar destinasi. Hal ini karena merebaknya kekhawatiran akan berurusan dengan Tim Saber Pungli.

“Karena di satu sisi mereka (pengelola) khawatir itu (pengelolaan mandiri) masuk pungli. Mengapa khawatir karena mereka belum dipayungi tentang bagaimana mengelola destinasi, salah satunya kebersihan sampah. Bagaimana pola pendanaan? Karena soal ini juga perlu. Terkait prasarana atau alat yang digunakan,” kata Kepala Bidang Destinasi Dinas Pariwisata Provinsi NTB, L. Kusuma Wijaya, diskusi terbatas Suara NTB dengan tema “Peliknya Pengelolaan Sampah di Destinasi Wisata NTB” di kantor Harian Suara NTB, Sabtu, 11 Maret 2017.

Iklan

Ia mengatakan perlu adanya sinergi antara pemda setempat dan pengelola destinasi wisata, sehingga pengelolaan sampah dapat dilakukan dengan baik tanpa melanggar aturan. Sebab yang menjadi kekhawatiran pengelola belakangan ini apabila tindakan pengelolaan sampah yang dilakukan ternyata bertentangan dengan aturan.

“Bagaimana koordinasinya (pemda) dengan pengelola sampah yang notabene dibentuk secara mandiri. Bagaimana pengelolaan sampah sampai keluar dari destinasi itu. Sampah tidak bisa diselesaikan di area destinasi. Harus dikeluarkan, baik sebagian atau seluruhnya ke TPA. Sehingga perlu adanya konektivitas antara pengelola dengan pemda dalam hal ini dinas kebersihan,” ujarnya.

Salah satu destinasi yang dianggap masih perlu pengelolaan sampah lebih khusus yaitu Gili Trawangan. Pasalnya Trawangan merupakan salah satu destinasi wisata unggulan di Provinsi NTB. Tercatat setidaknya 2.600 wisatawan memasuki destinasi ini setiap harinya. “Saya memang tidak menyebutkan Trawangan secara spesifik. Masalah sampah di destinasi, kami juga sangat merasakannya. Jadi tidak hanya Trawangan, tapi juga di tempat lain. Sebab pengelolaan sampah itu belum dilaksanakan secara sempurna. Ada beberapa kendala yang kami lihat di lapangan, mengenai tata kelola sampah,” kata Kusuma Wijaya.

Selain soal pengelola, menurutnya masih banyak destinasi wisata yang tidak punya pengelola secara khusus. Hal ini juga menjadi kendala untuk menuntaskan persoalan sampah. Sebab pengelola berperan sangat penting dalam mengurus kebersihan pada destinasi wisata.

“Kita lihat tempat wisata yang bersih bisa dikatakan masyarakatnya yang peduli. Kelompok masyarakat tertentu sadar bahwa ini adalah daerah wisata sehingga butuh kondisi bersih. Namun disisi lain banyak destinasi yang belum ada pengelolanya. Mengapa tidak ada karena sumber untuk mengelola itu tidak ada. Banyak destinasi yang tidak ada pungutan (retribusi),” ujarnya.

Ia berharap pemda setempat dan pengelola dapat melakukan koordinasi untuk mengatasi persoalan sampah di destinasi wisata. Sehingga pengelola tidak perlu melakukan pungutan yang dikhawatirkan akan menjadi pungli. Selain itu pengelola danmasyarakat juga diharapkan dapat terus menjaga kebersihan destinasi wisata. Sebab kebersihan merupakan salah satu tolok ukur kenyamanan wisatawan. (lin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here